Saat – Saat Pergantian Status itu..

Alhamdulillah akhirnya saya bisa tepati  janji untuk menuliskan pengalaman saat melahirkan putra pertama saya, 27 september yang lalu.

Zahran lahir di usia kehamilan 39 minggu 2 hari. Waktu yang cukup bagus untuk sebuah kelahiran, walaupun saya berharap di usia 37-38 mingguan Zahran udah mau keluar, eh ternyata Zahran mau nya lahir disaksikan banyak orang. Kebetulan di usia 37 minggu, kakek Zahran harus pergi ke kalimantan selatan karena ada Porwanas (Pekan Olahraga Wartawan Nasional), kebetulan beliau salah satu atlet dari Sumbar. Saat itu cuma saya dan Ibu saja dirumah, agak deg degan juga sih kalau Zahran keluar saat itu. Dan abi nya Zahran juga masih di Depok, rencana saya akan langsung saya panggil pulang kalau sudah ada tanda-tanda.

Senin, 23 September

Sebelum kontraksi beneran tiba, saya sudah sering merasakan beberapa kali kontraksi palsu (braxton hicks). Karena masih belum bisa membedakan antara kontraksi palsu dan yang asli, saya sempat tegang juga ketika saat jalan pagi, tiba – tiba perut bagian bawah agak nyeri yang cukup kuat dan lama. Ntah kenapa, hari itu juga saya langsung hub suami, dan minta dia segera pulang. Alhamdulillah malam harinya masih bisa ikut jemput suami ke Bandara.

Selasa, 24 September – Rabu, 25 September

Setelah suami sampai dirumah, eh kok malah kontraksi nya ga muncul-muncul. Hehe, sempat merasa bersalah juga manggil dia pulang cepat – cepat. Selasa berlalu, Rabu berlalu tapi tanda – tanda akan melahirkan tidak kunjung datang. Dalam dua hari itu, semua induksi alami saya lakukan dibantu dan disemangati oleh suami, mulai dari jalan pagi yang rutenya mulai diperpanjang, jongkok – jongkok ngepel rumah, sampai goyang ngebor inul.

Kamis, 26 September

Sekitar 05.30

Sehabis shalat shubuh di mushala dengan suami, kami langsung jalan pagi, lebih awal dari biasanya karena rencananya pagi itu suami akan ke rumah orang tuanya. Sengaja lebih pagi, karena berharap sebelum ibu berangkat kerja, dia udah sampai lagi di Pariaman, agar si sayah nggak tinggal sendirian dirumah.

Sekitar 07.20

Setengah jam setelah suami berangkat, saya kaget karena ada flek darah yang cukup banyak dicelana. Langsung kasih tahu Ibu, telp bidan, dan hub papa yang lagi ada latihan diluar rumah. Sengaja ga kasih kabar suami dulu, karena saya tahu pasti dia baru sampai banget di rumahnya. Saya mulai beres-beres, mandi dan cek kembali tas yang udah lama disiapkan. Kata bu Bidan, tenang aja dulu dirumah, aktifitas seperti biasa, dan jangan terlalu lelah.Okey..

08.00

ketika baru sampai dirumahnya, suami langsung telp dan tanya gimana kabar saya? Aman – aman sajakan? Dan dengan tenang saya jawab iya. Aman – aman saja kok. Terus beberapa menit berlalu setelah itu, dia nelpon lagi, dan saya jadi ga sabar kasih kabar kalau sudah ada tanda – tanda keluar. Akhirnya keceplosan juga kasih tahu, kalau tadi sudah ada flek darah keluar. Dan mendengar itu, ia langsung bergegas pamit dan balik ke Pariaman. (Maafin istrimu ini uda).  Ibu pun berangkat ke kantor untuk ambil absen saja, setelah itu balik lagi ke rumah.

Sekitar 09.45

Suami akhirnya sampai lagi di Pariaman, papa juga udah balik dari latihan, dan Ibu juga sudah dirumah setelah ambil absen. Semua sudah siap dirumah. Sambil menunggu, saya goyang – goyang inul dirumah dan jongkok – jongkok. Ketika kontraksi tiba, saya bersimpuh sambil bertumpu kedepan suami (dari buku yang saya baca, katanya ini salah satu posisi untuk mempercepat persalinan). Saat ini kontraksinya masih ringan dan jedanya masih lama sekitar 3 menit dengan jeda 15 – 20 menit. Dan saya tahu inipun masih fase persiapan, jadi tenang – tenang saja dulu dirumah…masih nyantai dan bisa cerita – cerita dengan suami.

Sekitar 11.25

Tiba – tiba mulai terasa mules dan sakit yang lumayan kuat dan beda dengan sakit – sakit sebelumnya, langsung ambil posisi bersimpuh di depan suami  dan mencoba menikmati sakitnya. Dan ternyata jedanya semakin dekat sudah 10 menit. Mungkin karena belum pernah merasakan sakit yang lebih dari itu, saat itu saya jadi ingin langsung pergi ke Bidan. Saya pikir itu udah luar biasa sakitnya. Langsung siap – siap dan berangkat ke Bidan.

11.40

Sampai dirumah bidan, langsung periksa dalam dan waw sakit juga periksa dalam itu. Ternyata Baru pembukaan 1 sodara –sodara. Bu bidan menawarkan mau pulang atau tetap disana. Saat kontraksi hilang, rasanya saya mau pulang dan nunggu dirumah saja, tapi ketika kontraksi datang lagi rasanya ga mau pulang. Akhirnya saya dan suami putuskan untuk tetap disana, ibu dan papa saja yang kembali ke rumah.

13.00

Karena memutuskan menunggu dirumah bidan, akhirnya saya dan suami pergi kerumah makan untuk cari makan. Hoho, makan sambil nyengir – nyengir nahan sakit, saat kontraksi datang saya berhenti makan, kontraksi hilang makan lagi begitu sampai selesai makan. Sampai – sampai si ibu yang jualannya bertanya karena liat saya nahan sakit.

14.00

Selesai makan dan sampai dirumah bidan kontraksinya semakin kuat dan dekat, saya sudah tidak peduli dengan sekitar saat itu, tidak berselera lagi untuk bicara, saya mulai meringis kesakitan, dan mulai bergantung di tubuh suami sambil istighfar. Ganti – ganti posisi tidur, berdiri, bersimpuh, nyungging sakitnya tetap ga hilang malah semakin kuat. Beberapa kali saya muntah dan mengeluarkan semua makanan yang sudah dimakan tadi. Di isi lagi dengan air teh, sari kurma dan air air zam –zam. Begitu seterusnya, rasanya sakitnya tak kunjung habis.

16.00

Akhirnya periksa dalam lagi, dan ternyata sudah pembukaan tujuh. Pantesan sakitnya udah nggak karuan rasanya. Saat itu saya sudah nggak kuat bergantung di tubuh suami, saya putuskan untuk berbaring miring di tempat tidur sambil megang erat tangan suami. Huaa, ini puncak – puncak sakitnya, tapi Alhamdulillah selama sakit saya tidak sampai jerit – jerit, karena selalu di ingatkan sama suami untuk istighfar dan menyebut nama Allah. Karena monoton mengulang istighfar terus menerus, akhirnya suami inisiatif menghidupkan muratal surat Al- Baqarah yang lagi saya hafal. Akhirnya secara reflek saya ikutin bacaan surat tersebut, semakin kuat sakitnya, semakin kencang suara saya membacanya. Sampai pada ayat yang sudah tidak saya hafal, saya kesulitan lagi menyalurkan rasa sakit, akhirnya muratal nya diputar ulang dari awal lagi, dan saya ikutin lagi. Begitu seterusnya sampai pembukaan lengkap. Ini benar – benar membantu saya menyalurkan rasa sakit yang subhanallah luar biasa itu.

18.00

Periksa dalam lagi, ternyata sudah pembukaan lengkap. Mulai ada sensasi sensasi ingin mengejan, tapi kenapa bu Bidan masih belum mengintruksikan saya buat mengejan. Saya sempat merasa aneh juga, malah disuruh untuk lepaskan dulu dengan teknik pernafasan.

18.45

Rasa ingin mengejan semakin kuat dan tidak tertahankan, akhirnya saya mengejan dan ternyata pecahlah ketuban. Sampai saat itu tiba – tiba rasa sakitnya berkurang dari sakit sebelumnya, dan lagi  – lagi saya belum di intruksikan untuk mengejan. Hati saya mulai berkata, ada apakah ini? Apa yang ditunggu, kenapa masih belum keluar bayi nya. Dan saya masih bertahan, mencoba menerapkan teknik pernafasan yang sempat diajarkan bidan dan pernah saya baca dulu sambil istighfar dan memegang erat tangan suami.

20.30

Sampai saat ini, bayi saya belum keluar, saya lihat mata orang disekeliling mulai resah, bu Bidan yang berwajah tenang pun sudah tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, saya bisa melihat semua itu. Muthia anak Bu Bidan yang kebetulan teman SMA saya dulu yang lagi kuliah di kedokteran hilir mudik tampak gelisah. Vita sepupu saya yang seorang bidan pun ternyata sudah berada disana dan mulai terlihat resah, wajah Ibu dan suami yang dari tadi yang selalu menemani saya sudah tidak karuan. Ternyata dibelakang, sejak pembukaan 7 Bidan sudah memberitahu ibu kalau ternyata bentuk tulang panggul saya agak sedikit menghambat jalan lahirnya Zahran. Zahran masih berada di tulang panggul 2-3, ia harus lewati sampai 4. Kalau nggak salah terhambat di tulang spina ischiadica. Sedangkan ketuban sudah pecah lebih dari 2 jam. Detak jantung zahran selalu dikontrol alhamdulillah masih baik. Isu akan dirujuk kerumah sakit sudah mulai terdengar, dan sebelum dirujuk   saya disuruh mengejan siapa tahu Zahran bisa bergerak turun ke bawah. Hampir setengah jam dicoba tetap tidak ada perkembangan, akhirnya saya dirujuk ke Rs. Aisyiah Pariaman.

21.00

Ketika di ambulance, saya terus mencoba membujuk zahran agar bisa bergerak turun dan bisa keluar sebelum sampai dirumah sakit. Ketika ada rasa mengejan, saya terus coba mengejan sekuat tenanga. Tapi tidak berhasil  juga.

21.15

Sampai dirumah sakit kebetulan Mona (teman sekelas ketika di SMA) yang lagi jaga. Bidan senior dan dokter pun datang, dan melakukan periksa dalam. Akhirnya saya di kasih infus untuk menambah tenaga selama setengah jam, dan di induksi agar sakitnya semakin kuat. Mendengar kata – kata induksi sebenarnya ada ketakutan tersendiri, karena yang saya tahu sakitnya akan sangat sakit sekali. Tapi entahlah, saat itu karena keinginan yang begitu kuat agar lahir normal, saya coba tahan sakit di induksi itu dengan terus menerus istigfar dan menyebut nama Allah. Sampai orang – orang yang membantu persalinan disana terheran – heran melihat saya diam dan tidak menjerit saat di induksi.

23.00

Setelah obat induksi nya bereaksi, saya jadi sering ingin mengejan. Semua bersiap, memandu saya untuk mengejan dengan benar, berharap Zahran dengan mengejan zahran bisa terdorong kebawah. Entah berapa kali saya mengejan, tapi tetap tidak bisa. Saya mendengar mereka menyebut-nyebut isitlah kaput. Entahlah saat itu saya tidak mengerti apa yang mereka sebut.Detak jantung Zahran selalu dikontrol, dan tiba – tiba entah mengejan yang keberapa kali, detak jantungnya Zahran tidak terdengar. Ketika kontraksi hilang, detak jantungnya normal lagi, begitu terus, vita yang dulu juga pernah bekerja di rs. tersebut selalu meminta tolong pada bidan senior yang membantu disana, untuk mengusahakn normal dulu. Dokter pun melihat semangat dan saya masih kuat terus mencoba untuk memandu agar bisa lahir normal. Tapi ketika kondisi jantung zahran sudah tidak terdengar ketika mengejan, saat itu semua benteng pertahanan runtuh. Saya lihat Ibu sudah pasrah dan meminta lakukan yang terbaik saja, suamipun begitu sudah pasrah kalau memang jalan terakhir harus operasi. Dan akhirnya saya pun menyerah, dan bilang jika itu yang terbaik lakukan saja operasi.

23.30

Semua bersegera membawa saya ke ruang operasi. Semua peralatan dan atribut dipakai oleh para tim medis, saya di suntik bius setengah badan. Saat itu tidak sedikitpun ada rasa sakit, bahkan saya jadi sangat mengantuk dan sempat beberapa menit tertidur. Di atas kepala saya ada Muthia yang mengusap – ngusap kepala saya dan memberitahu setiap perkembangan operasi, karena saya diberi pembatas sehingga tidak bisa melihat apa yang sedang dokter lakukan dengan tubuh saya.

Jumat, 00.05

Alhamduilllah muthia bilang bayi nya udah keluar, ternyata Zahran menunggu jumat lahirnya. Tapi saya tidak mendengar tangisan Zahran, kemudian saya bertanya lagi ke Muthia “Kok ga terdengar tangisannya muth?” saya kurang tahu pasti saat itu, mungkin zahran sudah lelah berjuang mencari jalan lahir, baru setelah di sedot cairan dari mulutnya baru keluar tangisannya. Dan seketika itu, mengalirlah air mata ini di pipi. Tak terbendung rasanya, haru, bahagia akhirnya saya bisa mendengar tangisan Zahran. Itu rasa yang pertama kali yang saya rasakan ketika resmi jadi Ibu. Alhamduilllah akhirnya perjuangan itu bisa saya lewati, dan ternyata berat sekali perjuangan untuk menyandang gelar yang disebut “IBU” itu.

Setelah melahirkan, antara sadar dan tidak sadar dalam tidur saya, ada sebuah perasaan sedih karena akhirnya saya gagal melahirkan dengan gentle. Sempat terfikir juga, kalau tahu akhirnya cesar mending dari awal saja langsung cesar tanpa merasakan semua sakitnya. Sakit pembukaan 1-10, sakitnya di Induksi dan akhirnya juga merasakan sakit pasca operasi. Tapi, di sisi lain saya puas, mungkin sampai disitu kami (saya dan Zahran) bisa berjuang semaksimal mungkin untuk bisa menghadirkan proses kelahiran normal. Dari awal hamil sampai detik – detik kelahiran, saya terus berusaha berdayakan diri lakukan semua upaya yang bisa dilakukan, dan saya yakin Zahran pun sudah mencoba semaksimal mungkin untuk mencari jalan lahirnya.Tapi saya sadar, diatas kekuatan kita ada kekuatan yang maha kuat yang tidak bisa ditentang keputusannya. Kita hanya bisa berencana dan mempersiapkan, tapi tetap Dia juga yang memutuskan.

Akhirnya saya ingin mengucapkan terimakasih yang tak terbendung pada my lovely hubby yang selalu ada disamping saya disaat – saat sulit itu, yang bisa mengalihkan rasa ingin menjerit  menjadi lantunan quran disaat – saat kontraksi, Ibu yang juga terus ada mendampingi saya dan memberikan support nya, menyiapkan semua kebutuhan-kebutuhan saya, papa yang siaga antar jemput, bu Bidan yang mampu membuat saya tenang selama melahirkan, Muthia atas perhatian dari awal sampai berada di ruang operasi, Vita sepupuku yang membantu ini itu hubungan dalam Aisyiah, Vani, Yane, maktiah sekeluarga yang sampai begadang menanti sampai proses nya selesai dan Kakak yang dari jauh tak henti berdoa untuk kemudahan proses kelahiran ini. Dan semua teman – teman yang tidak bisa disebutkan satu – satu atas  perhatian dan kiriman doanya.

7 thoughts on “Saat – Saat Pergantian Status itu..

  1. Nangis bacanya, teh :’)
    subhanallah ya perjuangan awal menjadi ibu…
    Setiap proses melahirkan ada ceritanya sendiri, dan itu pasti istimewa.
    Bukan masalah seperti apa prosesnya (SC atau normal) krn apapun itu pasti ada ikhtiar maksimal dr ibunya buat yg terbaik u/ anaknya
    ya kan teh?😉
    Barakallah teh Isil sekeluarga…
    Semoga zahran tambah sayang umminya kl baca ini

    • teteh juga nangis baca cerita intan dulu..
      betul sekali, setiap proses melahirkan ada ceritanya masing2 yang istimewa..
      iya ntan..yang terpenting kami sudah ikhtiar..
      alhmduilllah maksih ntan..🙂

  2. nangis tersedu2 bacanya,,,sy sdh 5thn menikah n sdh mondar mandir ke spog terakhir hasil hsg tuba nonpaten lgsg disuruh bayi tabung tp sy mundur dl dg banyak pertimbangan…mhn doa ya mba agar bisa dpt amanah seperti zahran ,,,semoga zahran jd anak sholeh pemberi bobot pd bumi allah swt dg kalimatullah amiiin…sy jg mau buat blog utk tulisan2 pengalaman selama menjemput anak:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s