Kuliah, Kerja, Hamil = Mungkin

Kuliah, Hamil dan Kerja awalnya aku pikir hal itu mustahil bisa kujalani bersamaan. Yap, tapi kondisinya seperti itu yang harus dijalani. Seperti dalam postinganku sebelumnya, alhamdulillah di awal tahun Allah berikan 2 kabar bahagia sekaligus yaitu lulus seleksi S2 dan kehadiran calon baby ku dirahim. Disatu sisi syukur yang tak tergambarkan atas 2 nikmat yang kutunggu – tunggu itu, tapi setelah itu aku jadi berfikir bagaimana akan menjalankan 2 kondisi itu secara bersamaan ditambah lagi dengan kerja. Bagi yang akan menjalani kondisi itu, atau sedang menjalani aku akan berbagi disini sedikit pengalamanku.

Satu semester perjuangan, yups bagiku itu sebuah perjuangan yang cukup menguras energi, emosi, dan air mata. Tepat sebulan setelah berita bahagia diterimanya aku untuk lanjut studi di Magister Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Allah berikan berita bahagia dengan munculnya 2 garis merah di testpack. Waahh..sujud syukurku atas nikmat itu Ya Allah. Dan berarti juga aku harus menyingsingkan lengan baju untuk bisa menjalani satu semester itu. Selain kuliah dan hamil, aku juga masih tetap kerja part time di tempat kerja ku sebelumnya sebagai dosen honorer di STKIP Surya. (Lumayanlah buat tambah – tambah biaya..hehe). Karena jadwal kuliah di UI yang cukup padat dari senin – jumat dimana untuk satu mata kuliah masing – masing diadakan 2 kali pertemuan dalam seminggu, belum termasuk kalau ada praktikum dan asistensi yang kesimpulannya, senin – jumatku habis di gedung bundar itu. Dan akhirnya aku cuma punya waktu hari sabtu untuk mengajar di STKIP Surya, bersyukur jadwalnya bisa diatur jadi hari sabtu.

Masih ingat saat – saat itu, hari pertama kuliah aku masuk kelas materikulasi Struktur Data dan Algoritma. Dengan kondisi kelasnya gabung dengan S1, dan aku belum kenal satu orangpun disana. Dan tahukah saudara – saudara, kuliah ini adalah kuliah yang paling menakutkan bagi kebanyakan mahasiswa Fasilkom. Saat itu aku shock berat mendengar penjelasan dosen tentang sistem perkuliahan satu semester kedepan, kuliah 2 kali seminggu senin dan rabu, dan seminggu sekali ada yang namanya tutorial selama 2 jam, dimana beberapa hari sebelum tutorial akan ada latihan membuat sebuah program yang dikumpulkan saat tutorial. Setelah itu akan ada mini kuis yang pastinya buat program juga yang sifatnya hampir mirip dengan latihan yang sudah dikerjakan sebelumnya. Okeh, itu baru tutorial saudara – saudara, dan dalam 2 minggu sekali akan ada juga yang namanya asistensi dimana di dalamnya juga akan ada latihan dan minikuis yang lebih bersifat teori. Dan tidak habis sampai disitu, dalam satu semester akan ada 2 kali tugas besar yang semuanya juga buat program. Dan ada beberapa kuis pemrograman. Dan semua programnya dibuat dengan bahasa pemrograman Java. Dan oh my God, apaa JAVA? bahasa yang tidak pernah sedikitpun bersentuhan dengan ku ketika kuliah S1 di UPI dulu, ini yang paling membuatku shock. Saat itu aku langsung bertanya dalam hati, apakah aku bisa menjalani kuliah ini? Dengan kondisi lagi hamil muda yang tiap pagi tidak pernah absen dengan mual dan muntah – muntah, susah makan, hidung sensitif dengan bau bauan, mudah lelah dan pengantuk sementara untuk menjalani kuliah butuh konsentrasi tinggi dan waktu banyak untuk ngoprek program – program tersebut.  Sepulang kuliah, malamnya entah kenapa (mungkin bawaan hormon) tiba – tiba aku menangis didepan suami menceritakan semua kecemasanku, sehingga membuatnya pusing tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian sms ibu dan papa minta doanya agar aku dikuatkan menjalankan kuliah sambil hamil, membaca sms ku yang bernada mengiba ibu langsung menelpon, dan spontan keluar lagi tangisan itu, begitupun ketika telponnya berpindah ke papa aku tidak bisa menahan dan meluaplah semuanya. (kalau di ingat – ingat sekarang, aku cengeng juga ya..)

Seminggu dua minggu kuliah di UI, aku belum merasakan kenyamanan berada disana. Masih proses adaptasi dengan teman – teman baru, kampus baru, sistem baru, kebiasaan baru, dan pastinya kondisi tubuh baru. Hal yang cukup sulit bagiku adalah ketika istirahat makan dengan teman – teman, aku sering tidak menghabiskan makananku karena masih morning sickness, ditambah lagi mencium bau aneka makanan dikantin yang semuanya memicu mual dan muntah, dan tidak jarang aku berlari ke toilet dan mengeluarkan semua makanan yang sudah susah payah masuk ke perut. Karena belum terlalu dekat, aku juga belum memberi tahu tentang kehamilanku pada teman – teman sehingga kondisi tersebut semakin  membuatku  merasa berbeda sendiri. Belum lagi ketika mual itu datang saat perkuliahan, membuat semua konsentrasi ku buyar dan ingin cepat – cepat perkuliahan selesai. Hal yang sulit kurasakan lagi diawal kuliah adalah pulang pergi kampus – kosan dengan berjalan kaki yang membutuhkan lebih kurang 30 menit.Kondisi  UI yang cukup luas ditambah lagi letak gedung Fasilkom yang tidak dilewati Bikun (Bis Kuning), Bis kampus yang selalu berkeliling kampus UI tiap hari, membuatku harus rela berjalan kaki dan bermandikan keringat setiap perjalanan ke kampus.

Seperti itu kondisi kuliah diawal – awal, dan bagaimana dengan kerja tiap sabtu? Beda lagi tantangannya, jarak depok – tangerang yang harus kutempuh ke tempat kerja cukup butuh perjuangan. Aku yang dari dulu memang suka mengalami mabok perjalanan, semakin di perparah karena masih dalam masa morning sickness. Sekedar informasi dari depok ke tangerang aku harus naik sekali angkot ke pasar rebo, dari pasar rebo naik bis ke Gading Serpong tangerang, dan dari gading serpong ke tempat kerjaku naik sekali ojek. Dan beberapa kali, setiap turun angkot dan sebelum naik bis di pasar rebo, keluarlah semua isi perut ini, berangkatlah aku dengan kondisi tubuh lemes karena habis muntah.

Tidak jarang ketika kelelahan berada di puncak aku mengeluh pada suami, dan suamiku selalu mengingatkanku lagi untuk bersyukur atas nikmat Allah itu. Coba untuk sabar, karena setelah itu akan datang kebahagiaan yang tak tergambarkan yaitu menjadi seorang ibu. Bersyukur, suamiku sangat paham dan mengerti dengan kondisiku, jadi tidak banyak tuntutannya padaku. Bahkan semua urusan rumah, cuci mencuci dan bahkan masak dengan senang hati ia kerjakan sendiri. Terkadang aku merasa bersalah, tapi keadaannya aku tidak bisa membantu banyak. Yang terpenting baginya, kuliah ku lancar dan aku bisa menjalani kehamilanku dengan baik itu sudah lebih dari cukup. Terserah rumah mau berantakan, kain yang bertumpuk, atau piring kotor di belakang, dia tidak pernah sekalipun mewajibkanku untuk menyelesaikannya. Jika dia libur ngajar, semuanya baru dibereskannya sendiri. Huhuhu makasih uda🙂

Yap, itu kondisi di awal – awal, seiring berjalannya waktu, masuk bulan ke-5 kehamilan, sedikit demi sedikit mual dan muntah mulai menghilang, selera makan mulai kembali, di kuliahpun sudah mulai bisa beradaptasi, sudah punya teman tempat sharing perkuliahan, dan sedikit demi sedikit mulai nyaman menjalani rutinitas itu.  Teman – teman yang dulu belum tahu, sekarang sudah banyak yang paham dengan kondisiku, kuliah pun sedikit demi sedikit sudah bisa di ikuti, walaupun tetap masih terseok seok untuk mengejarnya. Tubuh juga sudah mulai kuat untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti bersih – bersih, mencuci, dan bahkan jadi mulai semangat untuk masak dan makan. Saat itulah aku mulai merasakan kebahagiaan menjalani kehamilan, mulai nyaman dengan predikat mahasiswa UI, dan terbiasa dengan rutinitas mengajar di Tangerang.

Dan bersyukur alhamdulillah, satu semester sudah masa – masa itu aku lalui, kuliah sudah selesai kujalani satu semester dan bersyukur masih bisa mendapatkan hasil yang membuatku tersenyum ketika melihatnya, Ngajar di STKIP Surya juga sudah selesai 16 kali pertemuan kujalani, dan sekarang tinggal menikmati kehamilan diminggu ke-29  dirumah menjadi Ibu Rumah Tangga sambil proses perbaikan gizi, cari – cari ilmu seputar kehamilan, persalinan dan parenting sampai mudik ke Pariaman dan insya Allah lahiran disana.

Kesimpulannya, Menjalani Kuliah, Kerja dan Hamil secara bersamaan itu mungkin. Walaupun butuh energi dan kesabaran ekstra untuk melewatinya. Harus terus positif thinking agar tidak pesimis, kalah dan menyerah ditengah jalan. Sering – seringlah berbagi cerita dengan suami, teman – teman dan orang tua, dan pintar – pintar cari komunitas yang juga mengalami hal yang sama agar beban itu bisa sedikit dikeluarkan. Karena jujur masa – masa itu, adalah masa – masa ingin di dengarkan dan ingin diperhatikan.  Dan terakhir jangan lupa untuk terus berdoa dan minta kekuatan pada yang maha Kuat, karena tanpa pertolonganNya, kita mustahil bisa melewati semua itu.

Okey, itu sedikit cerita dariku, semangat ya Bu Ibuuu yang juga sedang mengalami hal yang sama. Insya Allah semuanya akan berlalu dengan indah.

23 thoughts on “Kuliah, Kerja, Hamil = Mungkin

    • aamiin..
      iya yul berharap nanti si dedek jadi anak pejuang…
      ga malas jadi anak rajin karena terus diajak belajar ketika di kandungan dan pengennya sih lebih pinter ngodingnya dari pada umminya hehhe
      aamiin..

      iya dah hampir 2 tahun ada kali ya yul kita ga ketemu..

    • Iya ya, intan juga sambil kuliah ya..
      Maha besarNya yang telah memberikan kekuatan untuk kita para perempuan melewatinya

      makasih busui…🙂

  1. hi salam kenal. saya tidak sengaja menemukan blog ini waktu googling tentang kehamilan dan pekerjaan. saya sedang hamil 10 minggu, ya pusing mual udah jd rutinitas harian. tp sementara itu, kantor jg lg sibuk2nya. sampe kmrn ini kondisi kehamilannya sempet krg baik, disuruh bed rest 1 minggu, kata dokter pengaruh pikiran/stress. untungnya kondisi krg baik itu kebetulan cepet ketauan, blm sampai parah, menurut dokter kalau dibiarkan, itu nantinya akan flek2 dan bisa keluar X_X bingung jg, di 1 sisi pikirin kesehatan janin, di sisi lain ada tanggung jawab pekerjaan jg. tp pas liat cerita ibu isil ini, jd lbh kuat dan semangat🙂 pasti bisa lewatin semuanya dgn baik. makasih ya sharing dan inspirasinya🙂

  2. aku bangga mendengarnya tentang itu sama seperti halnya yang sekarang aku alami. hal yang terjadi terasa tidak mungkin bisa ku jalani bersamaan awal ku berpikir setelah aku membaca tentang mu ku merasa semakin semangat dan yakin bisa menjalaninya amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s