Bahagia Tidak Sempurna Tanpa Mau ‘BERBAGI’

Pernah merasakan mood tiba – tiba berubah tidak tahu sebab dan alasan?

Atau pernah merasa hampa dan tidak melakukan apa – apa dalam satu hari?

Hmm, dan mungkin ada banyak rasa – rasa lain yang tidak mengenakkan yang sering dikenal sama anak ABG sekarang dengan istilah ‘GALAU’. Bicara tentang galau saya jadi ingat sebuah buku yang berjudul ‘Yang Galau Yang Meracau’ yang ditulis oleh Fahd Djibran. Saya coba kutip kata – kata yang ada dalam kata pengantar buku ini tentang galau :

Percayalah, kadang-kadang menjadi galau itu perlu! Seperti menemukan bak mandi yang kotor dan dipenuhi lumut, kemudian kita merasa tidak nyaman dan ingin membersihkannya—menjernihkannya. Bedanya, saat galau, yang keruh dan perlu dibersihkan adalah kolam hati dan kolam pikiran kita. Itulah yang membuat kita tidak nyaman, gelisah, khawatir, bahkan putus asa. Dalam situasi-situasi seperti itu, mungkin kita perlu saat-saat sendiri: Melihat ke dalam diri, berbicara dengan diri sendiri…

Hmm, suka dengan gaya menulis dan berfikirnya penulis ini. Bagaimana cara ia menyajikan pikiran – pikirannya dalam bentuk tulisan, termasuk tentang ‘galau’ itu sendiri. Jujur kata itu lebih sering menghinggapi saya ketika sudah mulai kerja dibanding ketika kuliah dulu. Kuliah yang selalu sibuk dengan aktifitas ini itu, membuat saya tidak punya waktu untuk menggalaukan sesuatu. Jikapun ada, ketika bertemu dengan teman – teman dikampus, bertemu dengan adik – adik di KARISMA semuanya hilang dan pasti ada sesuatu hal baru yang saya dapat dari mereka. Mungkin kebiasaan banyak aktifitas beragam dan ketemu dengan orang – orang yang berbeda tiap hari, membuat hari – hari saya dinamis dan berwarna. Capek, lelah, dan pusing pasti sering dirasakan saat itu, tapi ada sesuatu kepuasan dan kenikmatan tersendiri ketika capek, lelah dan pusing dengan kegiatan – kegiatan itu. Yaps, tentunya kegiatan bermanfaat yang punya impact pada banyak orang.

Berbeda, dengan kerja. Walaupun sebenarnya saya bersyukur sekali bisa kerja disini. Saya bahagia, pengetahuan saya berkembang, dan saya belajar banyak dengan orang – orang hebat disini. Tapi, entah kenapa, disini saya sering bertemu dengan kata ‘GALAU’ yang jarang saya temui ketika kuliah. Setelah melihat kedalam diri, berbicara dengan diri sendiri, dan merenungi semuanya, menemukan penyebabnya. Ternyata ada perbedaan orientasi antara beraktifitas ketika masih kuliah dengan sekarang ketika sudah kerja. Dulu, ketika di karisma, capek nya karena adik binaan, ketika di kampus, lelahnya  karena sibuk mengurusi kegiatan himpunan. Orientasi nya pada adik binaan, orientasinya pada kegiatan untuk orang banyak bukan pada diri sendiri.  Dan sekarang, ketika kerja capeknya ya karena kerja atas dasar tanggung jawab yang berujung untuk diri sendiri. Tidak ada orientasi lain. Aktifitas yang dari hari ke hari sama, pekerjaan yang dari minggu keminggu selalu sama akhirnya menjadi sebuah rutinitas yang tak berujung. Disorientasi ini yang menyebakan rasa ‘GALAU’ itu hadir dan tidak jarang mengganggu kenyamanan saya. GALAU itu ternyata terkait dengan kebutuhan ‘BERBAGI’. Akhirnya saya mengerti dan membuat kesimpulan dan tadi malam langsung saya tuangkan dalam status facebook :

Hidup kita bukanlah sepenuhnya hak kita yang dipergunakan hanya untuk kepentingan kita sendiri..Ternyata ada sepersekian dari hidup kita yang menjadi hak orang lain. Yang jika itu ditunaikan, ternyata pada saat itulah kebahagiaan kita menjadi sempurna.

Hak disini bermakna luas, bisa berupa waktu, pemikiran, perhatian ataupun doa sekalipun.Yaps, porsi kita untuk berbuat dan berbagi tenaga dan pikiran memang lebih banyak ketika masih kuliah, karena itu adalah masa – masanya. Tapi keluar dari dunia kampus, bukan berarti kita menjadi orang yang individual dan tidak bisa berbagi. Kita masih tetap bisa mendapatkan bahagia yang sempurna dari berbagi itu kok, hanya saja mungkin bentuk dan porsi nya berbeda. Hmm, baiklah alhmdulillah akhirnya saya menemukan sesuatu point dari proses galau itu. Semakin percaya dan yakin pada keajaiban ‘BERBAGI’. Ketika berbagi, hati akan menjadi luas tak terbatas, dan ketika hati menjadi sangat luas maka disanalah ternyata letak kebahagiaan itu. Seperti postingan saya terdahulu Ternyata luas hati itu tidak terbatas, teman.

18 thoughts on “Bahagia Tidak Sempurna Tanpa Mau ‘BERBAGI’

  1. Emang kerjanya di bidang apa? Pastinya ada dong sesuatu yang tetap bisa dibagi di tempat kerja, karena berbagi itu bisa bikin happy. Bisa berbagi bekal makan siang, berbagi cerita yang bisa dipetik hikmahnya (bukan bergosip lho)
    Saya sendiri, kebetulan emang kerjaannya selalu membagi. Sebagai guru harus selalu berbagi ilmu, dan kebahagian terbesar saya adalah jika anak-anak didik saya dapat memahami apa yang saya ajarkan

  2. berarti benar juga yah yang di katakan teteh kita merasa galau jika perbedaan itu tidak sama yg kita rasakan di masa lalu pantesan saya gak betah di pesantren baru pengen nya balik lagi ke pesantren lama atau ingin ke pesantren lain tapi model nya dan kebiasaannya sama …bener juga yah …hmmm smoga artikel ini bisa saya manfaat kan ….like akh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s