Tentang Segumpal Daging, Sumber Rasa Itu

Terkadang tanpa direncanakan, ada begitu banyak hal yang ingin kuceritakan disini. Bahkan dari hal yang sangat kecil seperti semut pun punya cerita unik yang bisa ditulis. Dan ada saatnya juga, aku diam dan tidak bisa menulis apa – apa walaupun hanya satu kalimat. Persis seperti aku di 2 minggu terakhir ini. Bukan tidak ada waktu, bukan pula tidak ada akses internet, hanya karena aku tidak menemukan rasa. Entahlah, sulit untuk menjelaskan seperti apakah rasa itu, yang jelas rasa itu sangat berpengaruh pada tulisanku, pada semangat menulisku, dan pada gaya bahasaku.

Aku tidak tahu, apakah fenomena ini juga terjadi pada teman-teman narablog yang lain atau hanya aku saja yang mengalaminya. Tentang rasa itu, sekarang ia berwujud seperti tulisan ini. Yah itulah rasa yang kusebut itu. Ketika rasa itu datang, aku bisa tidak kenal waktu, tidak peduli tengah malam, pagi buta, siang bolong, ataupun sore hari, ada atau tidak ada internet, rasa itu akan kutuliskan dimana saja, walaupun hanya di ms.word ataupun notepad. Ajaib memang rasa itu. Tapi, aku jadi orang yang ketergantungan akan rasa itu. Ketika hatiku tak mampu menangkap rasa itu, yah akupun jadi orang yang datar dan tak mampu menuliskan apa – apa.

Rasa, yang kutahu dia hadir dari hati. Dia ada, ketika hati mampu menangkap makna dari setiap hal yang di alami oleh panca indera dan seluruh organ tubuh ini. Ketika hati mampu menangkap rasa manis, asin, pahit, ataupun asam yang dialami lidah, dia akan menjadi sebuah rasa. ketika hati mampu menangkap warna hitam, putih, merah, ungu, hijau ataupun ungu yang di lihat oleh mata, maka warna itupun bisa jadi rasa. Ketika hati mampu menangkap ilmu seperti matematika, kimia, biologi, fisika dan semua ilmu yang bisa dimengerti oleh otak, maka ilmu itupun bisa jadi sebuah rasa. Apalagi ketika hati bisa menangkap dan menggabungkan setiap kejadian dan pengalaman yang di alami oleh tubuh dan diri ini secara utuh, maka itupun akan menjadi sebuah rasa bahkan kata. Seperti tulisan ini.

Ketika akhirnya aku berhasil mempublish tulisan ini, berarti hati ku sedang menangkap rasa- rasa yang bersumber dari pancaindera dan organ tubuhku. Yah, aku berhasil menangkap rasa itu, setidaknya untuk saat ini, ketika kata-kata ini mampu ku reka hingga jadi tulisan ini.

Jika semua bersumber dari hati, aku jadi berfikir berarti hal pertama yang mesti aku benahi sebelum menulis adalah hati itu sendiri. Karena percuma, ketika panca indera dan organ tubuh yang lain mengalami sesuatu tapi hati tidak bisa menangkapnya, akhirnya kejadian itupun hanya lewat begitu saja. Kejadian semenarik apapun, jika hatiku sedang tertutup awan hitam, ia tidak bisa menangkapnya. Yap, aku mengerti sekarang kenapa begitu banyak ceramah – ceramah dimesjid yang mengangkat tema hati, dari jagalah hati sampai patah hati. Dan akupun juga mengerti, kenapa Allah berkata dalam kalamnya bahwa ada segumpal daging di tubuh ini yang sangat menentukan segalanya, jika ia baik maka baiklah diri ini begitu juga sebaliknya. Ya ternyata itulah hati. Hingga untuk menulispun aku ternyata juga butuh segumpal daging itu.

14 thoughts on “Tentang Segumpal Daging, Sumber Rasa Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s