Metamorfosis panggilan

Ini tentang saya, aku, gue, abdi, awak dan apapun itu panggilan untuk diri ini. Tentang panggilan saya yang mengalami perubahan seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan. Seperti ini prosesnya

 Di akte Kelahiran nama lengkap saya “Elfa Sifiana Amir”, jangan tanyakan artinya karena sampai sekarang saya juga tidak tahu arti nama ini. Yang jelas nama saya ini adalah pemberian dari “Etek” (sebutan untuk adik perempuan dari ibu di Minang) saya. Dan Amir dibelakang nama ini adalah diambil dari nama Papa saya “Amiruddin”. Tapi, terkadang saya selalu lupa menambahkannya belakang nama saya, dan sering menuliskan “Elfa Silfiana” saja. Akibatnya jika Papa tahu itu, dia akan dengan ngotot bertanya pada saya, kok Amir nya ga ditulis? Dengan bermacam alasan dan argumentasi (nanti ga sesuai akte lah, ntar ribet ngurus-ngurus lagi lah) akan dikeluarkan hingga saya menyerah dan menuliskan “Amir” dibelakang nama saya. Yah, begitulah Papa, belakangan ini saya mengetahui dia seperti itu hanya agar semua orang tahu kalau Elfa Silfiana adalah anaknya. Mungkin itulah kebanggan seorang Ayah, ada namanya tertulis di belakang nama anaknya. Padahal bagi anaknya, itu adalah beban tersendiri, karena dia belum bisa buat bangga nama yang terpatri dibelakang namanya itu.

Ok, clear ya. Tentang nama asli saya. Dan sejak lahir, kedua orang tua saya dan seluruh keluarga besar sudah menyepakati kalau panggilan saya adalah “ISIL”. Dengan konsisten mereka selalu memanggil saya dengan panggilan yang telah mereka berikan itu sampai sekarang.

Perubahan terjadi berawal dari saya sendiri. Saya yang waktu itu masih kecil dan belum bisa memanggil diri secara sempurna dengan panggilan “ISIL”, cuma bisa memanggil dengan sebutan “ICIN”. Coba perhatikan “I-S-I-L” berubah jadi “I-C-I-N”. Saya merubah S menjadi C dan L menjadi N. Jadilah nama itu ICIN.

 Akhirnya ada 2 nama panggilan untuk saya, ISIL dan ICIN tapi untungnya ICIN hanya saya sendiri yang boleh memanggil itu. Yang lain tetap konsisiten dengan panggilan ISIL hingga saya duduk di bangku SMP.

Ketika duduk di bangku SMA. Ada yang aneh terjadi disini. Teman – teman sekelas saya yang super bandel dan sedikit manja tidak mau memanggil saya dengan sebutan ISIL seperti teman – teman SD dan SMP dulu. Mereka dengan sendirinya memperluas akses panggilan ICIN menjadi panggilan untuk semua orang. Panggilan yang dulu hanya untuk diri saya pribadi, menjadi panggilan universal semua orang pada saya ketika SMA. Teman SD, SMP yang dulu memanggil ISIL bahkan guru – guru pun sudah terbiasa dengan panggilan ICIN. Baiklah akhirnya saya menerima dan terbiasa dengan panggilan itu “ICIN”. Yaps, dengan panggilan itu sebenarnya saya merasa lebih dekat dengan orang yang memanggil saya. Karena mereka memanggil saya seperti saya memanggil diri saya sendiri.

Oke, sampai SMA saya lebih banyak dipanggil ICIN, hanya keluarga besar saya yang masih istiqomah memanggil saya dengan “ISIL” atau “ADIK”. Panggilan ADIK awalnya karena untuk membiasakan Kakak memanggil saya dengan sebutan itu. Tapi bisa diabaikan, sekarang kita tidak bahas itu.

Saat saya kuliah di Bandung. Si saya mulai deh membiasakan memanggil diri tidak dengan ICIN lagi, tapi ISIL. Kenapa, karena dengan bodohnya saya berfikir ISIL akan terdengar sedikit INDONESIA dari pada ICIN. Di Bandung otomatis bahasa sehari – hari saya bahasa Indonesia, tidak bisa lagi menggunakan bahasa Minang seperti ketika masih SMA dulu, karena teman – teman disini pun sangat beragam.

Tingkat 1 kuliah, ketika kenalan saya selalu memperkenalkan diri dengan panggilan ISIL. Eh ternyata, bagi orang – orang di Bandung, panggilan ISIL itu terdengar aneh karena kedengaran seperti “USIL”. Komentar itu tidak data dari satu atau dua mulut, tapi hampir semua orang yang berkenalan dengan saya, selalu bilang hal yang sama. (Huft..sebel juga sih, kok ISIL jadi USIL…)

 Seiring berjalannya waktu, mereka akhirnya mulai menerima kalau nama saya “ISIL” dan semuanya memanggil dengan sebutan itu. Saya perlu jelaskan kata “Semua” disini kecuali teman – teman SMA saya ya, “semua” refers to orang yang baru saya kenal di Bandung.

 Oke, di Bandung saya juga punya teman -teman orang minang yang berasal dari daerah yang berbeda, ada dari Payakumbuh, Padang, Bukittinggi dll. Mereka tergabung dalam Forum Silaturrahmi Mahasiswa Minang (FOSMI). Disini mulai lagi deh pergesaran panggilan saya. Karena saya berasal dari Pariaman, jadi mereka memanggil saya “Cik Uniang” (Panggilan uni/teteh/mbak di daerah Pariaman). Nah, karena pengen keren – kerenan mereka plesetkan jadi “Chuniang” kalau di dengar selintas mirip dengan “Chunyang” bukan? Hehe, itu lho panggilan tokoh utama salah satu film korea.*ada – ada saja*

 Sehingga akhirnya, khusus anak – anak Minang yang di UPI akhirnya memanggil saya dengan sebutan Chuniang atau mereka sering menyingkatnya cuma dengan memanggil “CHUN”saja atau mereka menambahkan imbuhan “i” diawalnya jadi “ICHUN”. Akhirnya ada beberapa teman kuliah yang cukup dekat ikut-ikutan memangil dengan panggilan itu.

 Finally, ketika di Bandung terdengarlah beberapa panggilan yang berbeda untuk si saya.

 Teman-teman minang dan tingkat kedekatannya pada saya lebih biasanya memanggil dengan sebutan “ICHUN”.

Teman – teman SMA ataupun teman yang berasal dari Pariaman yang ada di Bandung tetap memanggil dengan sebutan “ICIN”. Ketika Ibu dan Papa ke Bandung, sempat terheran – heran dengan begitu banyak panggilan untuk anaknya ini. Kenapa sudah berubah jadi ICHUN? Akhirnya ketika saya jelaskan ibu dan papa hanya bisa tertawa dan geleng – geleng kepala.

 Baik, ternyata metamorfosa panggilan saya itu belum berhenti. Ketika lulus kuliah, dan diterima kerja di STKIP Surya panggilan saya berubah jadi ELFA. Elfa karena memang nama depan saya Elfa bukan ISIL. Kemudian karena Ka.Prodi jurusan sudah terbiasa memanggil dengan sebutan Elfa, akhirnya dengan terpaksa ketika berkenalan dengan semua civitas kampus, saya memperkenalkan diri dengan sebutan ELFA untuk menghindari kesalahan persepsi dan lain halnya.

 Kalau di urut mungkin alur metamorfosis nya seperti ini

 Isil – Icin – Ichun – Elfa

 Saya suka dipanggil dengan sebutan semua itu, silahkan saja mana yang anda paling suka manggil saya. Tapi secara tidak sadar saya mengkategorikan sendiri orang – orang yang saya kenal berdasarkan panggilan mereka pada saya.

 Simpel nya begini urutan kedekatan yang saya rasakan ketika ada orang yang memanggil saya.

 Elfa – Isil – Ichun – Icin.

 Saya akan jelaskan singkat, jadi yang memanggil saya Elfa, seolah – olah yang untuk orang yang baru kenal saya, dan tingkat kedekatannya berbeda dengan yang memanggil saya Isil – Ichun – Icin.

Begitu juga seterusnya, saya merasa orang itu benar – benar sudah mengenal saya ketika mereka sudah memanggil saya dengan sebutan ICIN. Karena panggilan ICIN itu adalah sedekat – dekat panggilan bagi saya, karena diri saya pribadi memanggil dengan sebutan itu. *So, silahkan cek sudah sejauh mana anda kenal saya dari sebutan anda pada saya * (hahaha, yang terakhir ga perlu di dengerin, si isil lagi latihan ngomong aja)

18 thoughts on “Metamorfosis panggilan

  1. xixi.. bundo juga punya urutan panggilan sedari kecil, berganti di setiap tahap.. sampai sekarang pun semua nama kecil itu tetap dipakai.

    Icin sampe sekarang masih imyut.. jadi bundo ikut panggil icin ajah..😛

  2. Saya tetap memanggil dengan Isil …
    Dari awal juga begitu … saya tidak ingin merubahnya …
    sudah terasa dekat dihati … hahaha

    Ichun ? saya ngakak ! kok dipanggil Ichun sih …

    Salam saya Sil

    • heheh
      iya gpp om
      itu memang panggilan asli sil
      dan saya senang dipanggil dengan sebutan itu

      heheh, kenapa om dengan ichun??ada yang aneh ya..
      itu di atas ada sejarahnya kenapa bisa dipanggil ichun

    • hahah semuanya sudah dijawab langsung sama kak rina kan??
      heheh kita adik kakak, wajar aja nama belakangnya sama

      oh ya link blog mu juga udah saya tempel…
      mksh ya

  3. Hehe.. dari awal sih Isil berkelana di dunia maya dengan nama Isil, ya jadinya diriku memanggilmu Isil deh😀
    Jyah… kok Chun Yang-nya gak bertahan lama ya? malah berubah jadi Ichun😀

    • haha, betul mbak..
      itulah panggilan awal saya pemberian ortu…
      boleh..boleh panggil isil saja mbak

      hehe, soalnya terlalu singkat kalau cuma chun mbak, jadinya ditambah i jadi ichun🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s