Petualangan para Detektif mencari “SAGARANTEN”

 

Inilah kami para Detektif pencari "Segaranten" (bareng mama susan)

Ini adalah kisah detektif – detektifan saya dan 7 orang teman di Karisma. Sebut saja kami adalah Isil, Yuli, Pipih, Susan, Rino, Bambang, Kasmita, Frista (adalah nama sebenarnya) berencana pergi ke Sukabumi, bersilaturrahim kerumah salah satu staff Divisi Kreatif yaitu Susan. Di awal Susan memang sempat ragu dan terus bertanya, tentang kebenaran dan kesungguhan kami untuk pergi kerumahnya. Saya yang tidak tahu keadaan perjalanan menjawab dengan yakin “IYA Yakin”.

Bandung sampai Sukabumi bisa terlewati dengan lancar. Rino dengan tenang dan tanpa ragu mengendarai Bujojo (nama mobil hijau andalan Rino) sampai sukabumi. Ternyata oh ternyata, perjalanan mulai tersendat dan menemui jalan buntu, saat kami sampai di alun – alun kota sukabumi.

Ini nih, sang angkot hijau itu...

Disinilah permainannya dimulai. Susan sang empunya rumahpun tidak tahu pasti jalan kerumahnya dari kota Sukabumi. Susan cuma memberi kami klu dan kata kunci nya yaitu Angkot Hijau.Yang dia ingat hanyalah naik angkot hijau kalau dari terminal Degung. Parahnya, karena kami naik mobil pribadi, pastinya tidak berhenti di terminal Degung tersebut, tapi untung kami menemukan dan melihat sang angkot hijau. Akhirnya, dengan semangat rino pun mengikuti jalan angkot yang sangat lambat itu dan ternyata kami sampai di terminal Degung. Hmm, ternyata kita salah arah…Malah sampai ke terminal. Baiklah, akhirnya kami ikutin lagi angkot hijau yang berjalan menjauhi terminal. Sampai di pusat perbelanjaan Jogja, susan berkata.

“Iya lewat sini, ada Jogja nya”.

Dan tahu ga, ternyata si angkot hijau itu hanya membawa penumpang dari terminal sampai pusat perbelanjaan tersebut, padahal sebelumnya kita sudah melewati tempat itu. Yah, sang angkot hijau ternyata bukan bukti yang sebenarnya. Setelah itu kita berputar, karena susan bilang seperti ini

“Biasanya susan jalan dulu kesana (sambil menunjuk ke arah kiri) sampai ketemu angkot hitam”.

 

Dan ini si angkot hitam itu

Yups, akhirnya kami mendapatkan satu klu kata lagi yaitu “Angkot Hitam”. Mulailah petualangan mencari sang angkot hitam tersebut. Mencoba mengikuti jalan  yang biasa dilalui susan dengan jalan kaki, ternyata Verboden. Terus cari jalan lain yang kearah yang sama masih verboden. Karena verboden terus, kami dipaksa harus balik ke terminal Degung lagi. Akhirnya, mama susan yang sudah menunggu lama dirumah, menelpon dan mengatakan sesuatu yang kami anggap satu klu lagi yang bisa membantu petualangan memecahkan kasus tersebut. Mama susan bilang dari telepon

“Tong isin naros” (Jangan takut bertanya)

Akhirnya, kata kunci itu kami terapkan, dan mencoba bertanya pada orang yang ada dijalan dekat terminal itu. Mulai lah susan bertanya dengan ala sundanya :

Punten Bapak, Bade tumaros. Upami ka Sagaranten (nama daerah rumah susan), palih mana ya pak?

Bapak itu bilang,

Lurus, ketemu BANK MANDIRI. Setelah itu belok kiri.

Akhirnya, satu klu lagi Bank Mandiri. Mulailah semua mata orang yang ada di mobil itu mencari yang namanya Bank Mandiri. Akhirnya ketemu, belok kiri dan horeeee…akhirnya terlepas dari lingkaran tak berujung yang dilalui sang Angkot Hijau. Hehehe

Oh iya, saya lupa ngasih tahu. Kalau nama daerah tujuan kami adalah SAGARANTEN. Tapi sebelum SAGARANTEN harus melewati terminal ‘JUBLEG’ dulu. Sepanjang perjalanan menuju terminal JUBLEG ternyata tak semudah yang difikirkan. Terlalu banyak persimpangan yang membingungkan tanpa ada petunjuk jalan. Dan terpakailah tips dari mamanya susan, agar kita jangan takut bertanya. Tiba di persimpangan kesekian, kita bingung lagi dan tidak ada orang yang bisa ditanyai. Hmm, gimana ya ni…Langit semakin gelap, fikiran tidak bisa berfikir jernih. Menengok kiri kanan, dan ternyata ada sebuah mesjid. Kami putuskan untuk berhenti sejenak, untuk menunaikan shalat magrib dan agar bisa bertanya dengan orang  yang ada disana.

Ada yang lucu disini, Susan bertanya pada bapak – bapak disana jalan menuju terminal jubleg. Ketika ditanya, kalian dari mana? susan menjawab dan berlagak sebagai orang Bandung, karena malu kalau bilang orang Sagaranten, tapi ga tahu jalan.

Setelah tenang habis shalat magrib, perjalanan dilanjutkan. Tidak berapa lama kita sampai diterminal JUBLEG. Setelah itu, apa yang terjadi, ternyata petualangan belum selesai teman? Perjalanan masih sangat  sangat panjang dan berliku. Lepas dari terminal JUBLEG, dikiri dan kanan tidak kami temui perumahan warga lagi, melainkan pohon – pohon tinggi besar yang ditemani dengan hujan di gelapnya malam.Lengkaplah semuanya…

Para detektif – detektif yang diatas mobil, satu persatu mulai tumbang. Suara yang tadi ribut, satu persatu mulai diam karena kepala pusing, dan menahan perut mual akibat jalan yang belok dan tak berujung. Hanya Susan, saya dan Rino yang masih bertahan. Rino karena menyetir dengan hati – hati. Susan yang karena harus menjadi penunjuk jalan, dan saya sendiri yang tidak merasakan pusing dan mual.

Disaat semuanya hening, tiba – tiba susan bicara dengan polosnya

“Sejujurnya, jarak dari terminal jubleg ke Segaranten 54 KM” hehhe

Wah, gubrakkk. Akhirnya melekatlah kata “Sejujurnya…” pada diri susan. Sejak saat itu, setiap Susan akan mulai pembicaraan, pasti dipotong oleh yang lain dan bilang “Sejujurnya…”dengan serentak. Hahaha

Dan jarum jam menunjukkan pukul 20.30 menit, akhirnya sampai juga pada tempat yang dituju. yaitu daerah “Sagaranten” yang Susan bilang itu kota. hehehe

Dan para detektif – detektif yang tepar tadipun, akhirnya bersyukur bisa menyelesaikan petualangan itu. Kami disambut baik oleh  mama susan, dengan begitu banyak hidangan yang susan bilang ga ada apa – apanya.

 

Hidangan, yang disuguhkan mama susan

wawwwww….yummi, tanpa basa basi. Kami yang sudah begitu lapar karena lama diperjalanan langsung menyantap hidangan itu. Dan perjalanan ini, berhasil membuat Rino beberapa saat ga mau melihat Bujojo si mobil kesayangannya. Saking lama dan bosannya diperjalanan. Hehe

Tapi, overall. Ternyata disnilah letak perjuangannya. Dengan klu – klu yang kami temukan, ditelusuri, ditanya dan ditempuh. Dengan itulah kami merasakan benar – benar jadi detektif (efek kegiatan detektif – detektifan sehari sebelumnya di KARISMA). Setiap klu – klu yang diberikan  susan kami anggap sebagai barang bukti, setiap orang yang kami tanyai kami anggap sebagai saksi, dan setiap mesjid yang kami singgahi untuk shalat kami anggap sebagai pos – pos nya.

Dan yang terpenting, disanalah letak ukhuwahnya, disitulah letak silaturrahimnya, dan itulah persaudaraannya.

Terimakasih atas perjalanan ini, buat Susan yang telah sudi menerima kami, buat Rino atas bujojonya, dan buat teman – teman lain atas cerita – cerita dan kata – kata andalannya yang membuat liburan kali ini berkesan.

19 thoughts on “Petualangan para Detektif mencari “SAGARANTEN”

  1. (Maaf)izin mengamankan KELIMAX dulu. Boleh, kan?!
    Dulu waktu SMA saya juga pernh kepaksa datang ke rumah teman di lain kabupaten. Alamatnya cuman tahu nama desa dan kecamatan. Ampuuuuunnnnn….. ternyta tempatnya di pucuk gunung, belum lagi desanya luas banget. Untung banyak orang yang baik hati.

    • ga kok ki..
      susan tu asli sana, dan dari kecil tinggal disana..
      tapi dia jarang pergi kemana2 jadi ga tahu jalan, kalau pulang juga naik bis dan biasanya tidur..
      hehe

  2. ngaraos abdi ge waktos bade nikah ka orang sampalan desa datar peuteuy kec cidadap di pwk tabuh 21.00 dugi ka nu di tuju tabuh 05.00, cape pisan di kota sukabumi na muter muter jalan sagaranten ka sampalan ancur,, hayang ceurik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s