Akhinrya bisa ngenet di kosan juga

Akhirnya, tidak perlu capek – capek lagi ke warnet buat sekedar mengirim tugas..
Akhirnya tidak perlu bawa laptop untuk sekedar browsing..
Akhinrya tidak perlu ke Upinet lagi untuk sekedar posting tulisan di blog..
Akhirnya bisa ngenet dikosan juga, penantian selama 2 minggu sekarang berbuah hasil..(hehe melebay).

Tapi walaupun fasilitas itu sudah ada, ada yang harus aku perhatikan. Jangan sampai kemudahan itu melalaikan ku dari Nya. Jangan sampai lupa waktu dan tugas. Yang paling utama harus bisa seimbang. Karena segala yang berlebihan tidak disukai oleh Allah.

Yah, ini lah cara ku buat mengingatkan diri sendiri. Dengan cara menuliskannya, agar selalu ingat dan ada yang mengingatkan. Mohon doa nya, agar ku bisa memanfaatkan fasilitas internet ini dengan sebaik- baiknya tanpa melalaikan yang lain. Amin

Jangan tinggalkan, karena itulah bahan bakar kita…………….

Adakalanya ketika kita sibuk dengan berbagai macam amanah dan tanggung jawab, fisik terasa lelah dan tidak jarang keluar kata mengeluh dari mulut ini. Tilawah pun jadi keteteran karena alasan kesibukan. Tahajjud kebablasan karena capek disiang hari, dan dhuha pun ga ada waktu saking banyaknya agenda. Ketinggalan – ketinggalan ibadah itupun menjadi sebuah kewajaran dengan alasan toh kita juga sibuk dengan amanah dakwah. Mhmm..apakah itu bisa dibenarkan? Apalagi bagi orang – orang yang mengaku aktifis dakwah kampus ataupun aktifis dakwah sekolah.

Continue reading

Aku telah 20 tahun….(dari catatan seorang sahabat)

Sebuah note yang saya ambil dari fb seorang sahabat, subhanallah sangat menyentuh…khususnya bagi kaum wanita..Dan alangkah pelitnya saya, kalau tidak mau menshare nya ke teman-teman
Silahkan dibaca, insyallah sangat bermanfaat

Saudariku, hari ini aku genap 20 tahun mendiami negeri ini. Mungkin aku belum dewasa, hanya saja aku telah mendapat tempat di hati penghuni negeri ini. Mungkin saja aku masih terlalu gamang menatap masa depanku, namun aku tetap yakin akan keteguhan bidadari-bidadari suci yang selalu bersandar pada diriku.
Aku sangat bahagia akan jutaan bahkan puluhan juta jiwa-jiwa suci yang sangat nyaman di sisiku. Kebahagiaanku mungkin melebihi kebahagiaan para leluhurku empat belas abad yang lalu saat pertama kali terlahir di negeri paling gersang di muka bumi ini. Mungkin kebahagiaanku juga tidak akan bisa dirasakan oleh saudari-saudariku di belahan bumi yang lain saat ini. Aku tidak pernah menyangka akan diizinkan ke sekolah dan kampus, ke rumah sakit, ke instansi pemerintahan, ke kantor kepolisian bahkan sampai ke istanan. Aku bahagia karena aku telah dipercaya mengayomi dan melindungi puluhan juta hati lembut perindu surga-Nya. Continue reading

Perasaan GJ (Ga Jelas)

Perpisahan pasti datang ketika ada sebuah pertemuan. Itu sebuah kodrat yang pasti akan terjadi. Rasanya tidak dapat membendung air mata ini, ketika bersalaman dengan Ibu, Papa, dan Kakak di Bandara International Minangkabau, saat mereka melepas keberangkatan ku. Mata ini tidak bisa lepas dari mereka, ketika kaki ku mulai melangkah masuk Bandara. Tidak jauh beda ketika berada dipesawat dan di Travel , sesekali terlintas bayangan mereka yang membuat ku tidak bisa menahan air mata.

Akhirnya, aku kembali ke kamar ukuran 3 x 3 yang ada di geger arum no 77. Kamar yang sebulan lebih aku tinggalkan karena pulang ke kampung halaman. Malam ini, kembali tidur sendiri dengan di temani lantunan senandung dari MQ FM. Seperti yang kutulis pada “Kenapa aku tidak pulang???” sebelumnya, suasana rumah dan kehangatan keluarga akan sulit hilang, pada seminggu pertama kedatangan ku. Dan aku harus tegar, agar tidak larut dengan perasaan itu. Karena ini adalah pilihan yang aku pilih sendiri. Sekarang, aku harus melihat kedepan, sambut tugas dan amanah yang sudah menanti. Kerjakan semuanya dengan maksimal agar bisa membanggakan mereka di kemudian hari.

Congratulation My Sister….


Hari itu(10/10/09) adalah hari kebahagiaan mu. Perjuangan mu selama empat tahun telah membuahkan hasil. Sekarang gelar sarjana pendidikan sudah mengikuti nama belakang mu. Selamat ya Kak, setidaknya untuk sekarang Kau telah bisa membuat Ibu dan Papa bangga ketika nama Alfi Syukrina Amir, S.Pd di panggil dalam acara wisuda yang sederha itu. walaupun ketika bertemu kita jarang akur, tapi aku juga begitu bangga dan bahagia ketika kakak ku satu – satunya telah menyelesaikan S-1 nya.
Masih lekat diingatanku, ketika Kau minta doa agar studi mu bisa selesai pada waktu yang tepat, bukan tepat pada waktunya. Dan ternyata harapan mu itu jadi kenyataan, lulus tepat pada waktu nya lah waktu yang tepat buat mu menyelesaikannya.
Harapanku sebagai seorang adik mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan dan membukakan jalan untuk mendapatkan pekerjaan seperti yang Engkau harapkan. Sukses juga buat usaha kafe “Wifres Educafe” yang baru kak rintis itu. Adik titip Ibu dan Papa, Bahagia kan mereka, buat mereka bangga dengan keberhasilan – keberhasilan yang Kak capai. Dan mohon doanya agar Dik juga bisa secepatnya menyusul kesuksesanmu.

Terimakasih atas Lindungan Mu Ya Allah (2)

Ini adalah lanjutan dari tulisan ku sebelumnya yang berjudul Terimasih atas Lindungan Mu Ya Allah (1).
Sedih, sekaligus bertanya – tanya ketika tahu pusat gempa itu terletak di Pariaman, Tanah kelahiran dan tempat ku dibesarkan. Sepanjang perjalanan dari Padang sampai Pariaman terlihat begitu banyak rumah yang sudah rata dengan tanah. Apalagi daerah kabupaten Padang Pariaman, bisa dikatan 90 % rumah rusak parah, sudah tidak bisa digunakan lagi. Belum lagi tanah longsor yang juga ikut melanda, daerah yang dekat perbukitan. Ada apa gerangan dengan semua ini? Apakah Allah sudah muak dengan kelakuan masyarakat Pariaman? Apakah ini ujian, peringatan, atau jangan – jangan sebuah adzab dari Allah? Naudzubillah…

Beberapa tahun yang lalu ketika gempa dan tsunami di Aceh, aku hanya bisa melihat di televisi banyaknya puing – puing bangunan dan mayat berserakan dimana – mana. Sekarang, semuanya ada di depan mata, kiri, kanan, depan, belakang, semuanya sama hanya puing – puing dan atap rumah yang bersisa disepanjang perjalanan ke Kabupaten Padang Pariaman.

Walaupun masih menyisakan trauma yang mendalam pasca G 30 S (Gempa 30 September), aku patut bersyukur yang sedalam – dalamnya karena rumah tempatku berteduh masih selamat dari bencana itu. Syukur, lingkungan dekat rumahku tidak begitu banyak yang mengalami rusak parah, padahal posisinya dekat dengan pantai dan pusat gempa. Alhamdulillah Allah masih melindungi dan memberi kami kesempatan, untuk semakin tersungkur padaNya. Dimana orang – orang harus menahan dingin dan panas di bawah tenda pengungsian, alhamdulillah aku masih bisa berlindung di rumah ku. Diluar sana masih banyak orang yang kehilangan keluarganya, aku masih bisa berkumpul dengan orang – orang yang kucintai. Dan satu lagi, yang selalu membuatku bersyukur padaNya, rumah kakak ibu di kampung yang terletak di Kabupaten Padang Pariaman, alhamdulillah juga aman dan masih berdiri kokoh, padahal semua rumah disekelilingnya hancur dan rusak parah.

Aku tidak tahu rahasia dibalik ini semua, yang jelas aku harus selalu mensyukuri nikmatNya. Allah masih melindungi aku sekeluarga dari marabahaya. Dan tugas ku sebagai hambaNya yang lemah, adalah harus semakin memperbaiki hubunganku denganNya. Aku harus, semakin dekat dan berserah padaNya. Aku berharap, mudah-mudahan tidak ada lagi bencana di negeri ini, dan Allah beri kesabaran pada saudara – saudara ku yang menjadi korban. Amin….


Terimakasih atas Lindungan Mu Ya Allah (1)

Tidak butuh waktu yang lama bagi Allah untuk merubah kota Padang dan Pariaman menjadi lautan mayat dan puing – puing bangunan. Semua terjadi seketika dan tiba – tiba tanpa ada aba – aba. 30 September 2009 pukul 17:16 WIB, waktu yang di pilihNya, untuk mengingatkan kami yang tengah sibuk dengan urusan duniawi. Ada yang sedang mandi, menuntut ilmu, istirahat dirumah, di tempat perbelanjaan dan aktifitas lainnya.

Seketika, tawa berubah jadi tangis, tenang berubah panik, dan diam jadi ribut. Manusia – manusia sibuk menyelamatkan diri masing – masing, seolah – olah kiamat sudah didepan mata. Gempa yang berkekuatan 7,6 SR itu merubah segalanya dan ada begitu banyak cerita dan kisah yang tak henti – hentinya membuatku mengucap syukur pada Nya.

Melalui tulisan ini, akan kupaparkan kisah G 30 S(Gempa 30 September) yang tak akan pernah lupa dalam ingatan ku :



Rabu itu, aku dan teman – teman FOSMI sedang mengadakan Gladi Resik Seminar Nasional Pendidikan yang akan diadakan di besoknya, Kamis 1 Oktober 2009 di Gedung Fakultas Bahasa Seni dan Sastra (FBSS) Universitas Negeri Padang (UNP). Setelah selesai menunaikan ibadah shalat ashar, aku sibuk dengan dekorasi diatas panggung, teman – teman ada yang testing mic dan urusan lainnya. Tiba – tiba panggung aula itu bergoyang dan terdengar bunyi seperti gemuruh yang sangat kencang. Tanpa pikir panjang, langsung ku ambil tas yang ada didepan mata dan lari ke luar gedung. Kaki ini serasa susah untuk di gerakkan, karena gedung yang terus bergetar dan mulai menjatuhkan beton – beton dari atas. Dan syukur, akhirnya aku bisa sampai di luar gedung dengan selamat tanpa kurang satu apapun kecuali HP Nokia 6600 ku yang tertinggal di dalam gedung yang sudah rapuh itu.



Ketika sampai diluar gedung, alhamdulilah aku masih berkumpul dengan teman – teman FOSMI yang lain dalam keadaan selamat walaupun ada teman yang sedikit cidera. Ketika gempa mulai berhenti, terlihat semua orang berlari kearah atas, dan spontan kita semua ikut lari karena menyadari lokasi itu dekat dengan pantai. Karena semuanya takut, kalau tsunami akan datang karena gempa yang begitu kuat. Kami saling berpegangan tangan dan lari tanpa tahu harus kemana. Dan akhirnya kaki ini berhenti, ketika mendengar suara wali kota padang yang menyebutkan bahwa gempa itu tidak berpotensi tsunami dari radio di salah satu mobil.



Akhirnya aku dan teman – teman FOSMI lainnya berjalan menuju rumah teman dari salah satu teman FOSMI yang bersama kami saat itu yang berada di Air Pacah. Beberapa teman, ada yang berjalan tanpa alas di kakinya karena tak sempat buat mengambilnya disaat gempa. Akhirnya kami bisa beristirahat dan minum beberapa teguk air disana, sampai akhirnya orang tua Uni Deni salah satu teman FOSMI yang bersama kami saat itu, menjemput dan membawa kami ke rumah nya yang ada di daerah Balai Baru Padang. Akhirnya kami kira – kira berdua belas orang, menginap dalam keadaan was – was dan harap cemas mencari informasi anggota keluarga yang lain.



Ketika pagi datang, kami di ingatkan lagi dengan gempa susulan sebelum shubuh menjelang dan diwaktu Dhuha. Karena ingin berbagi rasa, orang tua Angga (salah seorang teman FOSMI yang tinggal di Padang) mengajak kami untuk tinggal dirumahnya.Baterai HP yang sudah mulai habis, dan listrik tak kunjung hidup membuat kami semakin panik untuk menghubungi orang tua, syukur Angga punya telepon rumah sehingga bisa kami gunakan buat menghubungi keluarga masing – masing.



Akhirnya setelah satu setengah hari berpisah dengan keluarga, akhirnya aku bertemu juga dengan mereka dalam keadaan selamat.



Bersambung..