Kemanakah Arah Tulisan Ku?

Mencoba membiasakan lagi jari – jari ini untuk menari di atas keyboard. Semakin lama ditinggalkan, akan berat ketika memulainya kembali. Terkadang sempat bosan dengan gaya tulisan ku, terkesan narsis dan tidak berbobot. Semua apa yang dialami ku tulis. Tidak lain dan tidak bukan karena memang itu yang baru bisa ku buat.

Jujur sampai sekarang, aku masih belum menemukan jati diri ku dalam menulis. Aku belum bisa konsisten dalam mengisi konten blog ini. Dan sampai sekarang, aku masih dalam tahap pencarian itu semua. Ketika mengunjungi blog – blog teman yang sudah lebih awal dari ku, muncul rasa ingin menjadi seperti mereka. Dan tak jarang bertanya – tanya pada diri, kapan aku bisa seperti mereka?
Astaghfirullah, seolah – olah tidak mensyukuri nikmat yang diberikanNya. Tapi memang itulah kenyataannya, inspirasi menulis ku muncul hanya pada peristiwa – peristiwa apa yang kulihat, alami, dan saksikan. Dan hampir semuanya bersifat opini.
Sempat mencoba membuat sebuah berita, tapi aku tidak merasa nyaman disana, semua tulisan harus jelas dan bersifat objektif. Begitu juga dengan essay yang bertemakan pengetahuan, menulisnya seolah – olah mengerjakan tugas kuliah yang penuh beban. Kata demi kata yang dituliskan tidak boleh salah, harus ada referensi yang jelas. Tapi, jika di pikirkan kembali, disitulah tantangannya kalau selalu bertahan di wilayah aman, kapan kemajuan itu akan datang?
Yah, pada akhirnya aku harus mencoba nya sedikit demi sedikit, walaupun harus tersandung dan bahkan jatuh beberapa kali, tidak menjadi masalah besar. Karena itulah hakikat pembelajaran. Aku yang berlatar belakang pendidikan dunia IT dan kependidikan sudah seharusnya mulai menulis mengenai hal itu. Berbagi dengan pembaca, bisa dijadikan salah satu motivasi. Jika ingin berhasil, disiplin dan konsisten dalam mengupdate blog pun tidak boleh ku lupakan.
Advertisements

Kecemasan diatas Kebahagiaan

Satu tahun lamanya, aku menanti saat – saat seperti ini. Satu tahun lamanya aku menunggu untuk bisa menginjakkan kaki kembali di tanah kelahiranku itu. Ternyata satu tahun telah berlalu, dan penantian ku berakhir dalam sebuah angka yang indah 09-09-09. Rasanya seperti mimpi, ketika dari kejauhan mulai terlihat gonjong (atap khas minang)Bandara Internasional Minangkabau (BIM) lebih kurang pukul 12.25.

Alhamdulillah ketika pertama menginjakkan kaki di BIM, disambut oleh kedua orang tua tercinta, yang sudah siap menanti kedatangan anaknya. Ditambah lagi, diajak mengunjungi kakak dikampus. Lengkap sudah kebahagiaanku ketika melihat kakak keluar dari kafe yang baru dirintisnya. Yah, alangkah nikmat nya saat –saat itu, moment yang yang hanya bisa kurasakan setahun sekali. Demi sebuah cita – cita dan harapanku dimasa depan, semuanya harus ku jalani dan sudah menjadi sebuah episode dalam perjalanan hidupku.

Syukur, itu yang pantas ku panjatkan karena aku masih diberi kesempatan untuk berkumpul dengan mereka, orang – orang yang paling ku cintai di dunia ini. Tapi, dibalik kebahagiaan itu ada beberapa kecemasan yang selalu menghantui pikiranku beberapa hari sebelum pulang. Aku takut ketika dirumah, aku tidak maksimal menjalankan ramadhan yang tinggal beberapa hari. Aku takut, ketika banyak nikmat yang kurasakan, aku malah lalai dari mengingatNya. Karena keadaan dirumah sangat jauh berbeda dengan keadaan di Bandung.

Ketika di Bandung, lingkungan yang dekat dengan Daarut Tauhid dan kondusif tidak pungkiri, berdampak juga pada kondisi ruhiyah ku. Ditambah lagi, dengan adanya radio MQ FM dan teman – teman yang bisa mengingatkan ku ketika kemalasan dan kelalaian menghampiri. Belum lagi dengan banyaknya agenda – agenda yang harus ku jalani selama berada dikampus, akan menjaga ku dari kesia –sian dalam memanfaatkan waktu.

Sedangkan dirumah, dengan lingkungan yang biasa – biasa dan tidak adanya agenda rutin yang harus dilakukan, membuat ku harus ekstra kerja keras agar tetap istiqomah menjalankan target ramadhan. Belum lagi, dengan adanya hiburan Televisi yang selama di Bandung tidak pernah ku lirik, membuat ku harus terengah – engah bertahan untuk tidak terlalu mempedulikannya. Apalagi sedikitnya sarana yang bisa mengingatkan ku ketika lalai, seperti tidak adanya radio MQ dan buku bacaan, akan menambah berat perjuangan untuk melawan hawa nafsu .

Aku tidak mau, ketika berada di Rumah, keimanan ku semakin menurun. Aku tidak mau, ghirah yang selama ini bisa ku jaga, malah jebol ketika bersama orang – orang yang kucintai. Alangkah meruginya aku, jika semua itu terjadi. Makanya di awal keberadaanku di kampung halaman ini, aku tekadkan untuk tidak akan menyia –nyiakan nikmat waktu luang ini. Insyallah….

Dan melalui tulisan ini, aku mohon pada teman – teman untuk berkenan mendoakan ku di setiap sujud-sujudnya. Doa kan ku agar bisa istiqomah menjalankan Ramadhan ku ketika berada dimanapun. Dan jika kita bertemu jangan pernah segan atau malu untuk selalu mengingatkan, ketika aku lalai dan menyia – nyia kan waktu ku. Yah, karena itu lah yang paling ku butuhkan saat ini.



Pelajaran Berharga dari sebuah Amanah….



Yah, satu perjuangan lagi akhirnya selesai. Perjuangan menjadi panitia seminar IT/Kuliah perdana itu selesai juga. Setelah lebih kurang 2 bulan semua panitia mempersiapkan acara ini, senin 31/8/09 kemaren acaranya terselenggara juga.

Kuliah Perdana adalah sebuah Event tahunan yang wajib terlaksana di BEM Keluarga Mahasiswa Komputer UPI. Tapi ada yang beda di tahun ini, Kuliah perdana yang biasanya diperuntukkan buat mahasiswa baru program studi ilmu komputer dan pendidikan Ilmu computer itu, sekarang dirancang juga seperti sebuah Seminar IT yang membuka peluang mahasiswa dari angkatan, jurusan dan universitas yang berbeda untuk ikut dan berpartisipasi dalam acara ini.

Dan dari situlah timbul permasalahannya, karena memang sudah hukum alamnya ketika ada suatu perubahan dilakukan dari kebiasaan awalnya akan muncul berbagai macam reaksi dari berbagai pihak, baik itu yang pro maupun kontra. Panitia yang bisa dikatakan awam dengan kegiatan seperti itu sempat kaget dan berkecil hati, tapi alhamdulillah berkat kesolidan dan semangat bersama akhirnya memutuskan untuk terus melanjutkan perjuangan itu.
Alhamdulillah secara keseluruhan acara berlangsung lancar, walaupun Bapak Romi Satria Wahono yang mengisi acara diawal sempat datang terlambat tapi Alhamdulillah sampai terakhir acara tidak terlalu molor.

Kali ini saya tidak akan terlalu banyak membahas mengenai keberlangsungan acara, tapi lebih ke kegiatan dibalik layar yang dilakukan panitia. Karena bagi saya, acara itu tidak akan berlangsung dengan sukses tanpa ada orang – orang yang berada diposisi balik layar.

Kebetulan dalam event ini saya diamanahi sebagai koordinator PDD dan Humas, amanah yang sebelumnya belum pernah saya pegang. Yah, saya memang dari nol untuk memulai semuanya. Harus meraba dan merangkak, dan tidak sedikit kerikil –kerikil yang menghalangi perjuangan itu.

PDD dan Humas adalah pekerjaan yang lebih membutuhkan pengetahuan teknis, karena langsung terjun ke lapangan dalam pengerjaannya. Mulai dari menyediakan spanduk, poster, leaflet, seminar kit, sertifikat, plakat, meminta tanda tangan camat, lurah dan sampai dokumentasi kegiatan. Jauh bertolak belakang dengan amanah yang biasa saya pegang, seperti di acara dan sekretaris yang lebih focus ke konsep. Dan ini adalah sebuah tantangan bagi saya, ditambah lagi jabatan sebagai koordinator, tantangannya semakin berat. Karena saya tidak hanya mengatur diri saya sendiri tapi harus mengkoordinir 9 anggota PDD dan Humas lainnya.

Pelajaran berharga yang saya dapatkan dalam perjuangan sebagai koordinator adalah sabar. Saya langsung ingat, ketika ibu saya bilang kalau sebagai pemimpin itu yang sangat dibutuhkan adalah kesabaran dan kerendahan hati. Yah, ilmu itu baru saya sadari ketika mengemban amanah ini. Karena begitu banyak pemikiran, dan perasaan orang yang harus kita pertimbangkan.

Dan pada akhirnya saya ingin mengucap syukur yang sebesar-besarnya pada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala kekuatan, semangat dan kesehatan yang selalu ia limpahkan pada saya hambaNya yang masih jarang bersyukur. Tanpa semua itu, mustahil saya bisa mengemban amanah yang sangat baru ini bagi saya.

Selanjutnya pada kedua orang tua dan kakak saya, yang selalu mendukung setiap kegiatan yang saya lakukan. Bahkan mengurangi waktu berkomunikasi dengan mereka.
Kemudian ucapan terimakasih dan bangga pada Sembilan anggota PDD yang setia membantu saya dalam menjalani perjuangan ini. Buat Suci yang selalu siap dengan desaign –desaign nya yang unik, dan selalu menyelesaikan setiap tugas yang diberikan padanya, Azmi yang paling mengerti dan paham dengan saya, dia yang selalu minta maaf setiap selesai mengerjakan tugas. Riza, willi, Yogo tiga orang cowok dalam PDD yang selalu standby ketika dibutuhkan. Dan maaf banget sering saya suruh – suruh buat masang spanduk, pesan poster, sampai menyebarkan beberapa poster ke berbagai Universitas di Bandung. Kemudian Wanda yang benar –benar bertanggung jawab dengan nametag nya, beberapa hari saya ajak bolak balik TweakIT untuk ngurusin nametag di siang hari yang panas. Terimakasih banyak teman, dan selanjutnya dua sejoli ayu dan wafda terimakasih banyak telah bantuin beli seminar kit di pasar balubur, nemenin saya ke MQ FM buat publikasiin acara ini, dan bantuin angkat printer sampai tinta nya mengotori baju ayu yang baru. Terimakasih dan maaf kalau ada sikap saya yang membuat kalian tidak enak hati…Dan terakhir terimakasih buat santi, walaupun diawal persiapan jarang hadir, tapi pada hari H santi bisa bertanggung jawab dengan tugasnya. Terimakasih ya…Untuk semua anggota PDD saya menyadari masih banyak kekurangan yang saya lakukan sebagai seorang koordinator, saya belum bisa mengkoordinir kalian dengan bagus.
Dan terakhir thanks to semua panitia kuliah perdana dan Seminar IT, yang telah membantu proses pengerjaan tugas PDD, buat Elvira my best friend yang nemenin cari tanda tangan pak camat dan pak lurah, buat anggota Logistik ceria Rindi, Gina, Wulan, Enu dan Dian yang bantu ngurusin sertifikat sampai selesai, selanjutnya Ria wapres kita, terimakasih dah bantu dapetin tanda tangan pak dekan, dan maaf sekali dalam mengemban amanah PDD kurang koordiinasi dengan kestari, dan khususnya saya minta maaf pada ria mungkin sering jutek, dan cuek pada dirimu..Tika, Rindi, Imon, Sofi, Rendi, Kurniawan yang bantuin dalam menyebarkan poster. Septiyadi yang bantuin ngurus2 spanduk sampai selesai.

Dan buat semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu, terimakasih banyak atas bantuannya dan mohon maaf jika dalam pengerjaan tugas PDD umumnya dan saya khusunya tidak maksimal dan ada sikap yang tidak berkenan dihati teman-teman..Karena saya hamba Allah yang lemah yang tidak pernah luput dari kesalahan..Terakhir, saya senang dan bangga bisa bekerja sama dengan kalian semua.