Ahlan wa Sahlan ya Ramadhan. . .

Ahlan wa sahlan ya Ramadhan…

Sebentar lagi bulan yang sangat kita tunggu – tunggu itu akan menghampiri kita.

Bulan dimana kasih sayang Allah begitu besar kepada kita, peluang yang begitu besar untuk berlomba -lomba dalam meraih pahala dan cinta dari-Nya. Mudah – mudahan kita diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh dengan ampunan itu. Amin

Tinggal hitungan hari kita akan merasakan berlapar – lapar dan berhaus – haus disiang hari, kita akan merasakan nikmatnya sahur bersama…Ya bersama walaupun bagiku bukan bersama dengan keluarga tercinta seperti yang lain, tetapi bersama dengan teman – teman satu kosan…walau hanya dengan teman satu kosan tapi Aku tetap bersyukur karena masih bisa merasakan nikmatnya kebersamaan itu. Karena jauh diluar sana masih banyak orang yang hidup dalam kesendirian.

Huh..tak terasa sudah hampir setahun aku merasakan tinggal dan bergaul di tanah Pasundan ini. Sudah begitu banyak pengalaman & kejadian yang aku lalui. Ups belum bisa dikatakan begitu banyak mungkin cukup banyak karena aku baru satu tahun disini. Ya kira – kira seperti itulah…

Ramadhan tahun lalu aku jalani dengan keadaan yang serba baru dan dengan budaya yang sangat jauh berbeda dengan di Pariaman. Aku mengenal istilah baru ketika ramadhan disini yaitu “ta’jil”. Ta’jil adalah makanan kecil untuk berbuka seperti kolak. Aku tidak tahu itu berasal dari bahasa arab ataupun bahasa sunda itu sendiri, yang jelas orang – orang menyebutnya ta’jil. Di Pariaman aku tidak pernah tahu dengan istilah asing itu, yang aku tahu hanya istilah “pabukoan”. Ya Pabukoan dalam bahasa minang yang artinya hampir sama lah dengan yang disebut orang di Bandung dengan ta’jil.

Tidak hanya istilah – istilah baru yang aku dapati disini, aku mendapatkan pengalaman yang menurut ku sangat berharga yang jarang aku dapatkan ketika di Pariaman. Yaitu merasakan shalat tarawih di Daarut Tauhid yang begitu tenang dan khusyuk. Suasana Daarut Tauhid yang begitu nyaman dan tentram membuat setiap jamaah yang datang merasakan kenikmatan beribadah. Di tambah lagi dengan petugas – petugas nya yang santun dan sopan membuat kita merasakan kedamaian yang luar biasa. Tidak hanya itu penceramah – penceramah yang memberikan tausiah nya pun juga sangat luar biasa , mereka memang benar – benar punya ruhiyah yang bersih sehingga apa yang mereka sampaikan bisa masuk ke hati kita karena mereka berbicara tidak hanya dengan mulut, tapi dengan hati. Karena memang, hati hanya bisa disentuh dengan hati. Tidak jarang perkataan mereka membuat jamaah menitikkan air mata.

Itu salah satu hal yang membuatku selalu semangat dan menguatkan hati untuk selalu datang shalat tarawih ke DT. Walaupun sebenarnya jarak DT dari kosan ku lumayan jauh dan harus melewati gang – gang tikus. Aku tidak peduli jika harus pergi sendiri karena teman – teman kosan ku lebih memilih mesjid yang dekat dari kosan kami dari pada jalan capek – capek kesana. Aku tidak takut harus melewati gang – gang tikus itu sendirian di malam hari demi bisa shalat disana.

karena aku yakin setiap langkah yang kita tapaki kesana akan dihitung dan dibalas Allah dengan imbalan yang jauh lebih indah dari pada rasa penat yang dirasakan. Dan tidak sedikit orang – orang dari luar kota datang kesana hanya untuk beribadah dan I’tikaf bahkan usia mereka jauh lebih tua dariku tidak jarang bapak – bapak dan ibu –ibu yang sudah berusia lanjut berbondong – bonding kesana, jadi kenapa aku harus kalah dengan mereka dimana aku masih diberi nikmat kekuatan dan kesehatan…Akankah aku kalah dengan hawa nafsuku sendiri disaat orang – orang berlomba – lomba dalam kebaikan?

Aku merindukan saat itu..dimana lantunan ayat suci lebih sering menghiasi mulut daripada sekedar omongan yang tidak bermanfaat, dimana air mata lebih sering mengalir dipipi dan malam – malam lebih hidup dengan qiyamulail..

Ya itulah ramadhan yang sangat kita rindukan kedatangannya, sekolah yang hanya sekali setahun di buka Allah khusus untuk orang –orang yang mengaku beriman. Bulan yang begitu istimewa dimana ada satu malam yang nilainya sama dengan 1000 bulan. Subhanallah, sudah sejauh manakah persipan kita untuk menyambut bulan yang mulia itu?

mudah- mudahan kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa bertemu dan merasakan nikmatnya bulan ramadhan tahun ini dan mendapatkan malam lailatul qadar yang begitu di idam-idamkan oleh seluruh umat islam di seluruh dunia.Amin

Bandung, 24 Agustus 2008

One thought on “Ahlan wa Sahlan ya Ramadhan. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s