Miss U Asteroida . . .

Asteroida helix, sore ini aku diingatkan oleh salah satu teman asteroida ku , dia mengirimkan sebuah sms yang membuat ku teringat akan kenangan indah kita dulu. Begini sms nya

“Ass. Cin

Wie gehts?

Td malam do baco2 sms2 lamo pas wak d SMA,

Sms icin, cui, meri, oca, fika, uwie, aulia, pojan, frau nella, guru2 wak, n rantai2 asteroida lainnya kdang do nanyo, knpa qt hrus berpisah? Knapa tdk ttp spt d sma? Trtawa, mnrtawakan, dtertwakan dan akhirnya saling ingat tentang arti sakral sebuah keluarga_kluarga berharga 12IA1 ^_^

Nmun kmudian do sdar/dsdarkan ttg makna luar biasa dr “ASTEROIDA HELIX”-“IKATAN BINTANG2’ qt berpisah untuk mlngkapi makna itu! Qt berpisah untuk mengejar bintang qt, menjadi bintang, dan akhirnya saling berbagi terang, menerangi keremangan! Sukses y cin, met menjalani smster3, tertumpang doa yang sama untuk asteroida d Bndg. Miss U all “

Ya itu sms dari Rindo salah satu rantai asteroida yang sekarang sedang mencari cahaya nya di UI jakarta. Sms itu membangunkan ku ketika tidur siang, dan membuatku merasa berada disebuah ruangan sederhana tempat kita berbagi cerita, tempat kita tertawa, menertawakan dan ditertawakan. Dimana semua rantai – rantai asteroida bersatu membentuk sebuah bintang yang berkilau dengan indahnya, aku merasa berada di kelas XII IA 1 yang sangat kucintai dan kurindukan itu.

Teman – teman dimanapun kalian sekarang, aku berharap kalian juga sedang merasakan hal yang sama. Dan jika sedang membaca tulisan ini, coba renungkan dan bayangkan sebentar, kita berada dikelas yang kita cintai dan sedang berbagi cinta membentuk sebuah bintang yang terang dan saling berbagi terang, yang mampu menerangi kelas, sekolah dan bahkan kota piaman yang kita cintai.

Ya itu adalah mimpi kita semua, mimpi yang ku yakin pasti akan terwujud…

Sudah begitu banyak kisah yang kita lalui bersama……….

Walaupun sekarang keadaan membuat rantai – rantai kita terputus dan terpencar jauh, tapi bukan berarti ikatan hati kita terputus dan terpencar begitu saja, seperti yang dituliskan rindo dalam sms nya, kita berpisah untuk mengejar bintang kita, menjadi bintang dan akhirnya saling berbagi terang menerangi keremangan..

Amin….

Asteroida, aku rindu kalian……

Aku rindu ketika kita belajar matematika bersama pak Nazwir, dimana kita berebut kedepan untuk mendapatkan lima pertama……..

Aku rindu ketika kita belajar biologi bersama bu Azni dimana kita terkadang tertawa kecil karena istilah “manempe” yang sering diucapkan bu Azni,,,,,,,,,,

Aku rindu, ketika kita bernarsis – narsis ria dengan HP nya mona dan reysa karena pada saaat itu HP merekalah yang bisa diandalkan….

Aku rindu ketika kita berselisih paham, mengenai banyak hal hingga kita menangis bersama……….

Kejadian itu begitu indah untuk dilupakan, aku tidak akan pernah melupakan masa – masa itu, aku bersyukur karena telah menjadi salah satu bagian dari kalian…

Aku bangga bisa kenal dengan orang – orang yang begitu luar biasa seperti kalian……

Semangat ya teman, jalan kita masih panjang, jangan pernah menyerah untuk mendapatkan cahaya yang terang itu

agar kita bisa menjadi bintang – bintang yang luar biasa

agar bisa bersatu menjadi sebuah bintang Asteroida Helix untuk mewujudkan mimpi – mimpi besar kita. Ya mimpi yang pernah kita rajut bersama ketika di SMA dulu………

I miss U Asteroida Helix Qu……

sebuah Kesendirian

Sendiri….

Bagi sebagian orang

Sendiri adalah sepi

Sendiri adalah mencekam

Sendiri begitu menakutkan

Dan sendiri sangat lah dingin

Tapi bagi sebagian lain

Sendiri itu inspirasi

Sendiri itu sumber akal yang sehat

Sendiri itu merenung

Sendiri itu berfikir

Dan dengan sendiri lah timbul ide yang cemerlang

Itulah dua makna kesendirian yang sangat bertolak belakang, tapi ya itulah sendiri. Tidak ada yang salah dari tulisan diatas, semua nya benar tergantung dari sudut pandang mana kita menilainya.

Kita tidak bisa hidup dengan kesendirian karena kita diciptakan sebagai makhluk social yang kodratnya saling membutuhkan satu sama lain. Ketika kita sendiri, jauh dari keluarga, teman dan sahabat kita akan merasakan kesepian. Sehingga kerap kali kita merasakan kerinduan pada mereka. Tapi terkadang dengan kesendirian itu pula kita mendapatkan sebuah pencerahan.

Dengan kesendirian itu kita baru menyadari betapa berharga nya sebuah kebersamaan yang sering kita sia – sia kan. Kita juga butuh sendiri, untuk merenungkan semua dosa yang pernah kita lakukan ketika berada di keramaian.

Kerap kali ketika sedang dikeramaian atau bersama kita lupa dan tidak sadar dengan perkataan yang melukai hati teman, kita tidak tahu dengan perilaku kita yang membuat teman kita kesal. Itulah gunanya sendiri, karena dengan kesendirian otak kita akan lebih bisa berfikir jernih untuk membaca semua kesalah yang pernah kita lakukan.

Itu yang terjadi pada ku sekarang, selama ini dengan kesibukanku di organisasi, kuliah dan amanah-amanah lain, aku tidak punya waktu untuk merenungkan apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku tidak punya waktu untuk menilai apakah prilaku ku ada yang menyakiti hati teman – teman ku…

Dan dari sebuah kejujuran seorang sahabat, aku disadarkan,…

ternyata selama ini ada prilaku ku yang membuat sahabatku kecewa dengan ku..

Pada awalnya ketika beliau menjelaskan kesalahan yang telah aku lakukan itu, aku selalu memberikan alasan dan pembelaan atas kesalahan yang telah aku lakukan ..Aku merasa tidak salah sedikitpun..Itulah manusia tidak pernah mau kalah, dan disalahkan………..

Dan ketika aku mencoba merenung dalam kesendirian, aku baru menyadari ternyata aku telah menzolimi sahabat ku yang sangat baik dan percaya padaku…..

Aku telah membuat nya kecewa…

Disaat kesendirian baru aku menyadari, betapa berharga nya seorang sahabat, betapa indahnya kebersamaan itu…

Sahabatku yang kucintai karena Allah tolong maafkan teman mu yang tidak pernah menyadari kesalahan nya ini……..

Berilah maaf pada orang yang angkuh ini…

Karena pertemanan kita sangat lah berharga bagiku…..

Ya Allah ampunilah hamba mu yang lemah ini, hambaMu yang tidak pernah menyadari kesalahannya….

Hanya ampunan Mu yang ku harap ya Allah…..

Ahlan wa Sahlan ya Ramadhan. . .

Ahlan wa sahlan ya Ramadhan…

Sebentar lagi bulan yang sangat kita tunggu – tunggu itu akan menghampiri kita.

Bulan dimana kasih sayang Allah begitu besar kepada kita, peluang yang begitu besar untuk berlomba -lomba dalam meraih pahala dan cinta dari-Nya. Mudah – mudahan kita diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh dengan ampunan itu. Amin

Tinggal hitungan hari kita akan merasakan berlapar – lapar dan berhaus – haus disiang hari, kita akan merasakan nikmatnya sahur bersama…Ya bersama walaupun bagiku bukan bersama dengan keluarga tercinta seperti yang lain, tetapi bersama dengan teman – teman satu kosan…walau hanya dengan teman satu kosan tapi Aku tetap bersyukur karena masih bisa merasakan nikmatnya kebersamaan itu. Karena jauh diluar sana masih banyak orang yang hidup dalam kesendirian.

Huh..tak terasa sudah hampir setahun aku merasakan tinggal dan bergaul di tanah Pasundan ini. Sudah begitu banyak pengalaman & kejadian yang aku lalui. Ups belum bisa dikatakan begitu banyak mungkin cukup banyak karena aku baru satu tahun disini. Ya kira – kira seperti itulah…

Ramadhan tahun lalu aku jalani dengan keadaan yang serba baru dan dengan budaya yang sangat jauh berbeda dengan di Pariaman. Aku mengenal istilah baru ketika ramadhan disini yaitu “ta’jil”. Ta’jil adalah makanan kecil untuk berbuka seperti kolak. Aku tidak tahu itu berasal dari bahasa arab ataupun bahasa sunda itu sendiri, yang jelas orang – orang menyebutnya ta’jil. Di Pariaman aku tidak pernah tahu dengan istilah asing itu, yang aku tahu hanya istilah “pabukoan”. Ya Pabukoan dalam bahasa minang yang artinya hampir sama lah dengan yang disebut orang di Bandung dengan ta’jil.

Tidak hanya istilah – istilah baru yang aku dapati disini, aku mendapatkan pengalaman yang menurut ku sangat berharga yang jarang aku dapatkan ketika di Pariaman. Yaitu merasakan shalat tarawih di Daarut Tauhid yang begitu tenang dan khusyuk. Suasana Daarut Tauhid yang begitu nyaman dan tentram membuat setiap jamaah yang datang merasakan kenikmatan beribadah. Di tambah lagi dengan petugas – petugas nya yang santun dan sopan membuat kita merasakan kedamaian yang luar biasa. Tidak hanya itu penceramah – penceramah yang memberikan tausiah nya pun juga sangat luar biasa , mereka memang benar – benar punya ruhiyah yang bersih sehingga apa yang mereka sampaikan bisa masuk ke hati kita karena mereka berbicara tidak hanya dengan mulut, tapi dengan hati. Karena memang, hati hanya bisa disentuh dengan hati. Tidak jarang perkataan mereka membuat jamaah menitikkan air mata.

Itu salah satu hal yang membuatku selalu semangat dan menguatkan hati untuk selalu datang shalat tarawih ke DT. Walaupun sebenarnya jarak DT dari kosan ku lumayan jauh dan harus melewati gang – gang tikus. Aku tidak peduli jika harus pergi sendiri karena teman – teman kosan ku lebih memilih mesjid yang dekat dari kosan kami dari pada jalan capek – capek kesana. Aku tidak takut harus melewati gang – gang tikus itu sendirian di malam hari demi bisa shalat disana.

karena aku yakin setiap langkah yang kita tapaki kesana akan dihitung dan dibalas Allah dengan imbalan yang jauh lebih indah dari pada rasa penat yang dirasakan. Dan tidak sedikit orang – orang dari luar kota datang kesana hanya untuk beribadah dan I’tikaf bahkan usia mereka jauh lebih tua dariku tidak jarang bapak – bapak dan ibu –ibu yang sudah berusia lanjut berbondong – bonding kesana, jadi kenapa aku harus kalah dengan mereka dimana aku masih diberi nikmat kekuatan dan kesehatan…Akankah aku kalah dengan hawa nafsuku sendiri disaat orang – orang berlomba – lomba dalam kebaikan?

Aku merindukan saat itu..dimana lantunan ayat suci lebih sering menghiasi mulut daripada sekedar omongan yang tidak bermanfaat, dimana air mata lebih sering mengalir dipipi dan malam – malam lebih hidup dengan qiyamulail..

Ya itulah ramadhan yang sangat kita rindukan kedatangannya, sekolah yang hanya sekali setahun di buka Allah khusus untuk orang –orang yang mengaku beriman. Bulan yang begitu istimewa dimana ada satu malam yang nilainya sama dengan 1000 bulan. Subhanallah, sudah sejauh manakah persipan kita untuk menyambut bulan yang mulia itu?

mudah- mudahan kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa bertemu dan merasakan nikmatnya bulan ramadhan tahun ini dan mendapatkan malam lailatul qadar yang begitu di idam-idamkan oleh seluruh umat islam di seluruh dunia.Amin

Bandung, 24 Agustus 2008

Indahnya Ukhuwah

Hari ini aku merasakan kerinduan yang sangat mendalam dengan teman – teman dakwah ku. Aku merindukan masa – masa ketika kita membaca, mendengarkan dan mengkaji ayat – ayat suci Al-qur’n bersama. Ketika salah satu dari kita punya masalah kita bersama mencoba memberikan solusi dan merasakan juga apa yang ia rasakan. Aku rindu nasehat – nasehat yang mereka berikan ketika aku salah jalan. Semangat dan motivasi yang selalu keluar dari mulut mereka ketika aku mulai lelah memikul beban dakwah ini. Dengan kehadiran mereka aku merasakan beban itu semakin ringan.

Aku benar – benar kehilangan masa – masa indah bersama mereka yang sekarang hanya tinggal kenangan. Tapi aku bersyukur karena pernah merasakan saat – saat itu, aku bangga bisa menjadi bagian dari mereka.

Aku tahu inilah adalah pilihan kita bersama, kita harus kuat menjalani nya untuk sebuah pertemuan yang yang lebih baik dari sebelumnya. Amin… Ya itulah ukhuwah… Betapa indahnya ukhuwah itu, betapa nikmat nya kalau kita berkumpul dan berpisah karena Allah. Bagaikan tubuh dengan organ – oragan lainnya yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Jika salah satu sakit semuanya juga ikut merasakan. Dan jika ada yang mendapat kebahagiaan maka yang lainnya turut bahagia.

Air mata ku menetes dipipi ketika aku membuka kembali lembaran – lembaran surat cinta yang mereka tuliskan sebelum kita berpisah. Semoga harapan – harapan yang mereka tuliskan untuk ku bisa menjadi kenyataan. Amin..

Ya Allah kuatkanlah ikatan pertalian ini, abadikanlah kasih sayang diantara kami dan dekat kan lah hati kami walau jarak memisahkan. Amin…

Saudari – saudariku yang selalu dirahmati Allah semoga hati kita makin terpaut untuk merajut cinta karnaNya…

Terimakasih atas cinta yang kalian berikan untuk ku, terimkasih atas saat –saat yang pernah kita lalui bersama. Semoga kita dipertemukan di Syurga kelak.

Amin…

Sang Murabbi

Ya Allah terimakasih Kau telah mempertemukan aku dengan orang – orang yang begitu luar biasa yang hatinya senantiasa dihiasi dengan ketulusan dan keikhlasan yang diwajahnya selalu tersungging senyum yang menenangkan ku.

Mereka lah Murabiyah –murabiyah ku yang tak pernah kenal lelah dan letih dalam menyampaikan ajaran Allah. Mereka tak pernah minta imbalan atas semua yang telah mereka berikan kepada ku. Bahkan tak jarang mereka mengorbankan kepentingan mereka demi membina ku dan teman – teman. Mereka hanya mengharapkan kasih sayang dari Mu ya Allah. Tujuan yang begitu mulia..

Sekarang baru kusadari, aku punya banyak salah pada mereka, tidak jarang aku malas-malasan pergi mentoring hanya karena alasan sepele. Padahal mereka begitu semangat datang untuk memberikan ilmunya pada ku. Begitu sering aku tidak menyetor hafalan ketika jadwal setor hafalan tiba, dan dengan wajah tanpa dosa aku mengatakan kalau aku lupa menghafal. Mereka hanya tersenyum dan memberikan nasehat dengan cara yang begitu lembut. Maafkan adik mu ini uni, kakak, dan teteh.

Semoga mereka selalu dalam lindungan Mu ya Allah..

Amin….

Aku merindukan Mereka yang dengan sabar mendengarkan khodoyah ku dan teman – teman, Disaat aku lupa dan salah jalan mereka lah yang selalu mengingatkan ku dan memberikan solusi yang terbaik bwt ku. Karena mereka aku bisa merasakan nikmatnya iman, indahnya ukhuwah dan bisa mengenal Allah dan rasul lebih dekat..

Rasa rindu itu semakin membuncah dihati ini ketika aku menonton trailer sang murabbi, aku merasakan semangat Ustad Rahmat ada pada mereka. Dan membuat hati ini pun bersemangat menempuh jalan dakwah yang penuh dengan onak dan duri . Sebelumnya aku tidak pernah berfikir jadi seorang murabi yang akan membina adik-adik seperti yang dilakukan mereka pada ku. Aku hanya ingin dibina bukan membina, begitu pikir ku beberapa tahun yang lalu ketika salah satu murabbi ku mengatakan kalau aku harus siap menjadi murabbi ketika duduk dibangku kuliah nanti. Karena harus ada generasi penerus untuk melanjutkan dakwah ini, jika kita tidak ingin negeri ini hancur karena tidak ada orang yang menyeru ke jalan Allah. Sekarang aku mulai paham dengan semua itu. Kalau memang amanah itu datang aku akan berusaha menunaikannya dengan sebaik-baiknya. Ya Allah berikan aku kekuatan untuk menjalankan semua amanah ini.

Kak Mery, Kak Nila, Uni Anis tolong doakan adikmu ini agar tetap istiqomah dijalan dakwah ini. Agar tetap sabar dan ikhlas seperti yang pernah kalian contohkan pada ku. Aku akan selalu mengingat nasehat – nasehat yang pernah kalian lontarkan padaku.

Terimakasih Uni, kakak dan teteh atas ilmu, keikhlasan, ketulusan, kesabaran, dan nasehat kalian kepada ku yang begitu berarti bagiku.

Ya Allah kuatkan lah ikatan ini agar terus terpaut dalam ukhuwah ini. Walaupun jarak memisahkan kami, jadikan kami selalu dekat dalam cintaMu.

Ya Allah lindungilah mereka dan kuatkan hati kami dalam mengarungi jalan yang Kau pilihkan buat kami. Dan pertemukan kami di syurgaMu kelak ya Allah.

Amin…..Amin ya Rabbal’alamin………..(Selasa, 19 agustus 2008)