Gempa SUMBAR

All posts in the Gempa SUMBAR category

Waktu … dan Lagi – Lagi Waktu…

Published December 27, 2009 by isil

Saya rasa, ini adalah saat yang tepat untuk membuat tulisan mengenai waktu dan tetek bengeknya. Karena ini adalah masalah saya, saya sangat butuh, dan dengan menuliskannya lah  salah satu cara buat mengingatkan diri ini, selain itu juga bisa berbagi dengan yang lain. Tul gak pren????

Sudah begitu banyak, buku – buku yang ngebahas tentang manajemen waktu dan sejenisnya, entah sudah berapa buku yang saya miliki mengenai hal itu. Tapi ketika, masalah ini  datang di depan mata, masih saja terkadang si sayaa tidak bisa menanganinya, dan bahkan terjebak kedalamnya. Terkadang kita tidak sadar, sudah melewatkan waktu begitu saja, tanpa ada sesuatu yang bisa dihasilkan. Dan bahkan tanpa ada amal yang di peroleh. Naudzubillah..

Bukan manusia namanya, jika tidak pernah salah.

Tapi kata itu tidak bisa dijadikan alasan, untuk terus berbuat salah dan membiarkan waktu  - waktu yang kita punya terbuang percuma. Biasanya kita sadar akan pentingnya waktu, ketika kita sedang berada pada waktu – watku sibuk. Ketika semua tugas, pekerjaan dan kegiatan kita harus diselesaikan dalam waktu yang bersamaan. Dan pada saat – saat seperti itu kita sering bilang

Andai punya waktu sehari saja buat istirahat dirumah, pasti akan dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya.

Nah lho…tapi ketika waktu luang itu datang, kita sering lupa dengan tekad dan niat yang kita ucapkan di waktu sibuk. Karena pada hakikatnya, manusia memang sering lupa karena dua hal, yaitu waktu luang dan kesehatan.

Read the rest of this entry →

Selamat Idul Adha

Published November 27, 2009 by isil

Pagi ini, tepat pukul 1.05 ku terbangun dari tidurku, dan ternyata hari ini ada yang beda dengan hari – hari sebelumnya. Aku mendengarkan  gema takbir berkumandang dimana – mana. Yah, ternyata sekarang hari raya Idul Adha. Sama dengan Idul Adha sebelumnya, aku hanya bisa merayakannya dengan teman – teman FOSMI karena tidak mungkin untuk pulang ke kampung. Alangkah cepatnya waktu berlalu, tanpa terasa sudah 3 kali Idul Adha aku rayakan tanpa keluarga. Begitulah nasib anak rantau seperti aku ini, tapi beruntung masih punya teman – teman FOSMI dan Palaibada.

Selamat Idul Adha

  Read the rest of this entry →

Ayahku Pahlawanku

Published November 23, 2009 by isil

Diambil dari note seorang teman yang juga REPOST dari kaskus :  dan melalui beberapa peng-editan oleh nya. Jadi ingin berbagi dengan teman-teman..Mudah2n bisa kita renungkan….

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya….. Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…… Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu… Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” , Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka…. Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Read the rest of this entry →

Terimakasih atas Lindungan Mu Ya Allah (2)

Published October 7, 2009 by isil
Ini adalah lanjutan dari tulisan ku sebelumnya yang berjudul Terimasih atas Lindungan Mu Ya Allah (1).
Sedih, sekaligus bertanya – tanya ketika tahu pusat gempa itu terletak di Pariaman, Tanah kelahiran dan tempat ku dibesarkan. Sepanjang perjalanan dari Padang sampai Pariaman terlihat begitu banyak rumah yang sudah rata dengan tanah. Apalagi daerah kabupaten Padang Pariaman, bisa dikatan 90 % rumah rusak parah, sudah tidak bisa digunakan lagi. Belum lagi tanah longsor yang juga ikut melanda, daerah yang dekat perbukitan. Ada apa gerangan dengan semua ini? Apakah Allah sudah muak dengan kelakuan masyarakat Pariaman? Apakah ini ujian, peringatan, atau jangan – jangan sebuah adzab dari Allah? Naudzubillah…

Beberapa tahun yang lalu ketika gempa dan tsunami di Aceh, aku hanya bisa melihat di televisi banyaknya puing – puing bangunan dan mayat berserakan dimana – mana. Sekarang, semuanya ada di depan mata, kiri, kanan, depan, belakang, semuanya sama hanya puing – puing dan atap rumah yang bersisa disepanjang perjalanan ke Kabupaten Padang Pariaman.

Walaupun masih menyisakan trauma yang mendalam pasca G 30 S (Gempa 30 September), aku patut bersyukur yang sedalam – dalamnya karena rumah tempatku berteduh masih selamat dari bencana itu. Syukur, lingkungan dekat rumahku tidak begitu banyak yang mengalami rusak parah, padahal posisinya dekat dengan pantai dan pusat gempa. Alhamdulillah Allah masih melindungi dan memberi kami kesempatan, untuk semakin tersungkur padaNya. Dimana orang – orang harus menahan dingin dan panas di bawah tenda pengungsian, alhamdulillah aku masih bisa berlindung di rumah ku. Diluar sana masih banyak orang yang kehilangan keluarganya, aku masih bisa berkumpul dengan orang – orang yang kucintai. Dan satu lagi, yang selalu membuatku bersyukur padaNya, rumah kakak ibu di kampung yang terletak di Kabupaten Padang Pariaman, alhamdulillah juga aman dan masih berdiri kokoh, padahal semua rumah disekelilingnya hancur dan rusak parah.

Aku tidak tahu rahasia dibalik ini semua, yang jelas aku harus selalu mensyukuri nikmatNya. Allah masih melindungi aku sekeluarga dari marabahaya. Dan tugas ku sebagai hambaNya yang lemah, adalah harus semakin memperbaiki hubunganku denganNya. Aku harus, semakin dekat dan berserah padaNya. Aku berharap, mudah-mudahan tidak ada lagi bencana di negeri ini, dan Allah beri kesabaran pada saudara – saudara ku yang menjadi korban. Amin….


Terimakasih atas Lindungan Mu Ya Allah (1)

Published October 5, 2009 by isil

Tidak butuh waktu yang lama bagi Allah untuk merubah kota Padang dan Pariaman menjadi lautan mayat dan puing – puing bangunan. Semua terjadi seketika dan tiba – tiba tanpa ada aba – aba. 30 September 2009 pukul 17:16 WIB, waktu yang di pilihNya, untuk mengingatkan kami yang tengah sibuk dengan urusan duniawi. Ada yang sedang mandi, menuntut ilmu, istirahat dirumah, di tempat perbelanjaan dan aktifitas lainnya.

Seketika, tawa berubah jadi tangis, tenang berubah panik, dan diam jadi ribut. Manusia – manusia sibuk menyelamatkan diri masing – masing, seolah – olah kiamat sudah didepan mata. Gempa yang berkekuatan 7,6 SR itu merubah segalanya dan ada begitu banyak cerita dan kisah yang tak henti – hentinya membuatku mengucap syukur pada Nya.

Melalui tulisan ini, akan kupaparkan kisah G 30 S(Gempa 30 September) yang tak akan pernah lupa dalam ingatan ku :



Rabu itu, aku dan teman – teman FOSMI sedang mengadakan Gladi Resik Seminar Nasional Pendidikan yang akan diadakan di besoknya, Kamis 1 Oktober 2009 di Gedung Fakultas Bahasa Seni dan Sastra (FBSS) Universitas Negeri Padang (UNP). Setelah selesai menunaikan ibadah shalat ashar, aku sibuk dengan dekorasi diatas panggung, teman – teman ada yang testing mic dan urusan lainnya. Tiba – tiba panggung aula itu bergoyang dan terdengar bunyi seperti gemuruh yang sangat kencang. Tanpa pikir panjang, langsung ku ambil tas yang ada didepan mata dan lari ke luar gedung. Kaki ini serasa susah untuk di gerakkan, karena gedung yang terus bergetar dan mulai menjatuhkan beton – beton dari atas. Dan syukur, akhirnya aku bisa sampai di luar gedung dengan selamat tanpa kurang satu apapun kecuali HP Nokia 6600 ku yang tertinggal di dalam gedung yang sudah rapuh itu.



Ketika sampai diluar gedung, alhamdulilah aku masih berkumpul dengan teman – teman FOSMI yang lain dalam keadaan selamat walaupun ada teman yang sedikit cidera. Ketika gempa mulai berhenti, terlihat semua orang berlari kearah atas, dan spontan kita semua ikut lari karena menyadari lokasi itu dekat dengan pantai. Karena semuanya takut, kalau tsunami akan datang karena gempa yang begitu kuat. Kami saling berpegangan tangan dan lari tanpa tahu harus kemana. Dan akhirnya kaki ini berhenti, ketika mendengar suara wali kota padang yang menyebutkan bahwa gempa itu tidak berpotensi tsunami dari radio di salah satu mobil.



Akhirnya aku dan teman – teman FOSMI lainnya berjalan menuju rumah teman dari salah satu teman FOSMI yang bersama kami saat itu yang berada di Air Pacah. Beberapa teman, ada yang berjalan tanpa alas di kakinya karena tak sempat buat mengambilnya disaat gempa. Akhirnya kami bisa beristirahat dan minum beberapa teguk air disana, sampai akhirnya orang tua Uni Deni salah satu teman FOSMI yang bersama kami saat itu, menjemput dan membawa kami ke rumah nya yang ada di daerah Balai Baru Padang. Akhirnya kami kira – kira berdua belas orang, menginap dalam keadaan was – was dan harap cemas mencari informasi anggota keluarga yang lain.



Ketika pagi datang, kami di ingatkan lagi dengan gempa susulan sebelum shubuh menjelang dan diwaktu Dhuha. Karena ingin berbagi rasa, orang tua Angga (salah seorang teman FOSMI yang tinggal di Padang) mengajak kami untuk tinggal dirumahnya.Baterai HP yang sudah mulai habis, dan listrik tak kunjung hidup membuat kami semakin panik untuk menghubungi orang tua, syukur Angga punya telepon rumah sehingga bisa kami gunakan buat menghubungi keluarga masing – masing.



Akhirnya setelah satu setengah hari berpisah dengan keluarga, akhirnya aku bertemu juga dengan mereka dalam keadaan selamat.



Bersambung..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 65 other followers